Kita selalu punya alasan untuk menyalahkan—pemerintah, cuaca, atau nasib. Tapi tidak pernah cukup berani untuk menatap sumber masalah yang paling dekat: diri kita sendiri. Air yang masuk ke rumah itu bukan sekadar banjir. Ia adalah kiriman balik dari apa yang kita buang tanpa pikir panjang. Sungai dan laut tidak pernah benar-benar menolak—mereka hanya menunggu waktu untuk mengembalikan semuanya.
Ironisnya, sebagai suku Lampung, kita pernah diajarkan bahwa way yaitu sungai atau air adalah kehidupan. Sungai bukan tempat sampah, melainkan tempat suci, tempat kita bergantung, bahkan tempat dari mana kita minum. Tapi lihat sekarang—kita mencemarinya dengan tangan sendiri, lalu marah ketika air yang sama datang kembali tanpa ampun. Kita lupa, atau mungkin sengaja lupa, bahwa kehancuran sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang terus kita anggap sepele. Jadi sebelum menunjuk ke luar, mungkin ada baiknya kita belajar malu pada diri sendiri. Karena perubahan tidak pernah lahir dari teriakan, tapi dari kesadaran yang pelan-pelan diperbaiki. Dan jika kita masih menganggap sungai sebagai sumber kehidupan, maka seharusnya kita juga tahu bagaimana cara menghormatinya.
