Get me outta here!

Tanah Lebih Jujur daripada Langit (BAB KELIMA) - ENDING

Catatan Penulis / Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Kelima (Terakhir) Jika Anda belum membaca awal mula kisah ini atau ingin menyegarkan ingatan tentang kejadian sebelumnya, silakan baca Bab Pertama di sini terlebih dahulu sebelum melanjutkan.

Selamat membaca!

Ada pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan seseorang yang cukup berani untuk membawanya sampai mati.

Tiga tahun telah berlalu sejak malam ketika dua gundukan tanah dirapikan di belakang rumah bambu itu.

Desa masih sama.

Dan justru karena itu, Darman merasa ada sesuatu yang salah.

Juragan Kartawa masih memiliki kebun-kebun tembakau.

Rumahnya semakin besar.

Pagar kayunya telah diganti tembok.

Mobil datang dan pergi hampir setiap sore.

Di depan rumah ibadah, namanya masih disebut sebagai orang dermawan.

Orang-orang masih memujinya.

Penceramah yang dahulu begitu populer telah berganti.

Wajahnya berbeda.

Jaketnya berbeda.

Cara bicaranya berbeda.

Tetapi isinya sama.

Masih ada orang-orang yang duduk bersorak.

Masih ada orang-orang yang percaya.

Masih ada orang-orang yang lebih menyukai suara yang meyakinkan daripada kebenaran yang menyakitkan.

Dan masih ada orang-orang miskin yang menunggu bantuan dari mereka yang hidup berlebihan.

Hanya satu hal yang berubah.

Darman.

Atau setidaknya—

begitulah yang dikatakan orang-orang.

Memandang Kekosongan

Bilik bambu itu sekarang lebih terawat.

Dinding yang dahulu bocor ditambal.

Halaman depannya dipenuhi tanaman obat.

Beberapa anak desa sering datang mengambil sayuran.

Kadang ada beras.

Kadang obat.

Kadang hanya secangkir teh.

Tidak ada yang tahu dari mana Darman mendapatkan semuanya.

Ia tidak pernah meminta bayaran.

Tidak pernah pula menerima pujian.

Jika seseorang mengucapkan terima kasih, ia hanya menjawab:

“Lain kali, kalau melihat orang lain membutuhkan, lakukan hal yang sama.”

Itu saja.

Darman semakin jarang berbicara.

Ia lebih sering duduk di teras.

Memandang hujan.

Memandang tanah.

Atau menatap dua gundukan tanah di belakang rumah.

Makam ayah dan ibunya.

Orang-orang desa mulai membuat cerita sendiri.

Ada yang mengatakan Darman sudah tidak percaya Tuhan.

Ada yang mengatakan ia justru semakin dekat dengan Tuhan.

Ada yang mengatakan ia menemukan ilmu tertentu di kota.

Ada yang mengatakan ia pernah bertemu seorang wali.

Ada pula yang mengatakan Darman sudah gila sejak kematian kedua orang tuanya.

Tidak ada yang tahu.

Dan Darman tidak pernah menjelaskan.

Sebuah Tulisan Sebuah Cerita

Suatu sore, seorang pemuda datang.

Namanya Raka.

Ia anak dari cendekiawan tua yang dulu sering berbicara dengan Darman.

Ayahnya telah meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Sebelum meninggal, lelaki tua itu pernah berkata kepadanya:

“Kalau suatu hari kau benar-benar ingin tahu siapa Darman, jangan dengarkan cerita orang-orang.”

“Lalu?”

“Baca tulisannya.”

Raka tidak pernah mengerti maksudnya.

Sampai sore itu.

Ia menemukan Darman duduk di teras.

Hujan baru saja turun.

Di atas meja kayu terdapat sebuah buku tua.

Sampulnya cokelat.

Tanpa judul.

Tanpa nama.

Hanya sebuah bekas noda air di sudutnya.

Raka duduk.

“Boleh saya bertanya sesuatu?”

Darman mengangguk.

“Orang-orang masih membicarakan Kang Darman.”

“Biarkan.”

“Mereka bilang Kang Darman tidak percaya Tuhan.”

Darman diam.

“Sebagian bilang Kang Darman justru sangat percaya Tuhan.”

Darman tetap diam.

“Yang mana yang benar?”

Darman tersenyum.

Tipis sekali.

“Kalau aku menjawabnya, apa yang akan kau lakukan?”

Raka mengerutkan kening.

“Entahlah.”

“Itulah masalahnya.”

Darman membuka buku tua itu.

“Manusia terlalu sering meminta jawaban bukan karena ingin mengetahui kebenaran.”

Ia menatap Raka.

“Kadang mereka hanya ingin menemukan alasan untuk membenarkan apa yang sudah mereka percaya.”

Raka terdiam.

Kemudian matanya tertuju pada buku itu.

“Boleh saya membacanya?”

Darman tidak menjawab.

Ia hanya mendorong buku tersebut ke arah Raka.

Apakah Langit Berbohong?

Halaman pertama berisi tulisan tangan yang sangat tua.

Tanah Lebih Jujur daripada Langit.

Raka membaca perlahan.

Halaman berikutnya menceritakan tentang ayahnya.

Tentang ibunya.

Tentang Kartawa.

Tentang anak kecil yang mencuri singkong.

Tentang pemuka agama.

Tentang paceklik.

Tentang pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah dijawab.

Raka terus membaca.

Beberapa kali ia berhenti.

Beberapa kali ia menarik napas.

Dan semakin jauh ia membaca, semakin aneh perasaannya.

Tulisan itu seperti bukan sekadar catatan.

Seolah Darman sedang berbicara kepada seseorang yang duduk di depannya.

Pada salah satu halaman tertulis:

Jika suatu hari ada seseorang membaca tulisan ini, jangan tanyakan apakah aku percaya Tuhan.

Tanyakan kepadanya mengapa ia begitu membutuhkan jawaban itu.

Raka menelan ludah.

Ia membalik halaman.

Kosong.

Membalik lagi.

Kosong.

Kemudian halaman berikutnya berisi satu kalimat.

Malam ini ibu bertanya apakah aku sudah makan.

Raka berhenti.

Ia ingat cerita Darman tentang ibunya.

Ia membalik halaman berikutnya.

Aku menjawab sudah.

Kemudian:

Padahal aku berbohong.

Raka merinding.

Ia terus membaca.

Barangkali seorang ibu memang tidak pernah benar-benar bertanya apakah anaknya sudah makan.

Ia hanya ingin memastikan bahwa anaknya masih hidup.

Raka menutup buku sebentar.

Kemudian menatap Darman.

“Kang…”

Darman tidak ada.

Raka menoleh ke kanan.

Ke kiri.

Teras itu kosong.

Pintu rumah tertutup.

“Darman?”

Tidak ada jawaban.

Ia berdiri.

Membuka pintu.

Kosong.

Tidak ada kamar.

Tidak ada dapur.

Tidak ada suara langkah.

Hanya rumah tua dengan lampu minyak yang belum dinyalakan.

Raka keluar lagi.

Hujan masih turun

Tanah Lebih Jujur daripada Langit (BAB KEEMPAT)

Catatan Penulis / Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Keempat. Jika Anda belum membaca awal mula kisah ini atau ingin menyegarkan ingatan tentang kejadian sebelumnya, silakan baca Bab Pertama di sini terlebih dahulu sebelum melanjutkan.

Selamat membaca!

Hati ingin cinta. Jiwa ingin kedamaian. Pikiran ingin kesuksesan. Mata ingin tidur. Ego ingin validasi. Masa kecil ingin pemulihan. Kesendirian ingin kehadiran. Masa lalu ingin penyelesaian. Dan hidup ingin sebuah alasan untuk terus berjalan.

Malam yang Terlalu Panjang

Malam itu hujan tidak turun.

Langit hanya menggantung hitam di atas desa, seperti kain kafan yang belum sempat dibentangkan.

Darman duduk di samping ibunya.

Napas perempuan itu terdengar berat.

Satu tarikan.

Berhenti.

Kemudian tarikan berikutnya.

Seolah setiap napas harus meminta izin kepada tubuhnya sendiri untuk tetap hidup.

Ayahnya masih belum pulang.

Ia masih bekerja.

Di desa itu, bahkan kesedihan pun tidak pernah benar-benar punya waktu untuk berduka.

Orang miskin tidak bisa berhenti hanya karena sedang kehilangan.

Kalau mereka berhenti bekerja, besok mereka kehilangan sesuatu yang lain:

makanan.

atap.

utang yang harus dibayar.

atau kesempatan untuk sekadar hidup satu hari lagi.

Darman menggenggam tangan ibunya.

Dingin.

“Bu…”

Tidak ada jawaban.

“Bu, sudah makan?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Pertanyaan yang selama ini selalu ditanyakan ibunya kepada dirinya.

Sekarang Darman mengembalikannya.

Untuk pertama kalinya.

Ibunya membuka mata perlahan.

Tersenyum.

Senyum yang terlalu lemah untuk disebut senyum.

“Darman…”

“Iya, Bu.”

“Kamu sudah makan?”

Darman menunduk.

Dadanya terasa sesak.

Ia ingin menangis.

Tetapi air matanya seperti ikut lelah.

“Sudah.”

Bohong.

Ibunya tersenyum lagi.

“Bagus.”

Hanya itu.

Tidak ada nasihat.

Tidak ada doa panjang.

Tidak ada kalimat terakhir yang indah seperti yang sering diceritakan orang-orang dalam kisah kematian.

Hanya satu kata:

Bagus.

Karena seorang ibu tidak membutuhkan alasan untuk mencintai anaknya.

Ia hanya perlu tahu anaknya baik-baik saja.

Bahkan ketika dirinya sendiri sedang sekarat.

Darman menatap wajah ibunya lama sekali.

Dan untuk pertama kalinya ia mengerti:

barangkali cinta memang tidak selalu datang dalam bentuk pelukan.

Kadang cinta adalah seseorang yang menanyakan apakah kita sudah makan, sementara dirinya sendiri menahan lapar.

Kadang cinta adalah seseorang yang tetap tersenyum ketika hidupnya sendiri sedang runtuh.

Dan kadang cinta adalah seseorang yang tidak pernah meminta kita membalas apa pun.

Ia hanya ingin kita hidup.

Orang yang Pergi Tanpa Permisi

Ayah Darman pulang menjelang tengah malam.

Bajunya basah oleh keringat.

Tangannya penuh tanah.

Ia berdiri di ambang pintu.

Melihat istrinya.

Kemudian melihat Darman.

Tidak ada percakapan.

Tidak perlu.

Ada jenis kesedihan yang terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Ayahnya duduk di samping istrinya.

Mengusap rambutnya.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Darman tidak tahu kepada siapa kata itu ditujukan.

Kepada istrinya?

Kepada dirinya sendiri?

Kepada kehidupan?

Atau kepada Tuhan?

Ayahnya menangis.

Pelan.

Sangat pelan.

Seolah bahkan untuk menangis pun ia merasa harus meminta maaf.

Darman melihat kedua orang tuanya.

Dan tiba-tiba ia merasa takut.

Bukan takut kepada kematian.

Tetapi takut kepada kemungkinan bahwa suatu hari nanti rumah ini akan kehilangan suara.

Suara ibunya.

Suara ayahnya.

Suara sendok yang beradu dengan piring.

Suara batuk.

Suara pertengkaran kecil.

Suara kehidupan.

Barangkali manusia baru memahami betapa berharganya suara ketika rumah sudah terlalu sunyi.

Tiada Jawaban

Menjelang subuh, Darman keluar rumah.

Ia berjalan menuju bukit.

Tempat yang sama ketika dulu ia datang untuk meminta jawaban.

Tanah masih basah oleh embun.

Udara dingin.

Langit perlahan berubah warna.

Darman berdiri menghadap ufuk.

“Kalau Engkau ada…”

Ia berhenti.

Dulu ia meminta tanda.

Sekarang ia tidak lagi tahu apa yang harus diminta.

Ia tertawa kecil.

Pahit.

“Kenapa aku harus kehilangan orang baik?”

Tidak ada jawaban.

“Kenapa orang yang bekerja keras harus tetap miskin?”

Tidak ada jawaban.

“Kenapa orang yang lapar harus merasa bersalah karena mencuri makanan?”

Tidak ada jawaban.

“Kenapa orang-orang yang mengaku paling dekat dengan-Mu justru sering begitu mudah menghakimi?”

Tetap tidak ada jawaban.

Darman menatap langit.

Lama.

Kemudian ia berkata:

“Kalau Engkau memang sedang diam…”

Ia menarik napas.

“…setidaknya jangan biarkan aku menjadi manusia yang ikut diam.”

Untuk pertama kalinya, ia tidak meminta Tuhan menyelesaikan dunia.

Ia hanya meminta dirinya sendiri agar tidak menjadi bagian dari masalahnya.

Dan mungkin, tanpa ia sadari, itulah awal kedewasaannya.

Setelah Kehilangan

Pagi datang.

Tetapi tidak membawa sesuatu yang baru.

Rumah Darman menjadi lebih ramai oleh orang-orang yang datang membawa belasungkawa.

Mereka duduk.

Berbisik.

Berdoa.

Membicarakan kematian.

Sebagian datang karena peduli.

Sebagian karena kewajiban.

Sebagian karena ingin tahu.

Begitulah manusia.

Bahkan kematian seseorang pun terkadang menjadi bahan percakapan bagi orang-orang yang tidak pernah mengenal kehidupan orang itu.

Darman duduk di sudut.

Mendengar semuanya.

“Memang sudah takdir.”

“Sudah waktunya.”

“Jangan terlalu larut.”

“Semua manusia akan kembali.”

Kalimat-kalimat itu terdengar benar.

Tetapi tidak satu pun mampu mengurangi rasa kehilangan.

Darman mulai memahami sesuatu:

kadang-kadang kalimat yang benar belum tentu menjadi kalimat yang dibutuhkan seseorang.

Orang yang sedang kehilangan tidak selalu membutuhkan penjelasan.

Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang duduk di sebelahnya.

Diam.

Tidak menghakimi.

Tidak memberi ceramah.

Tidak memaksa mereka segera menerima.

Hanya hadir.

Karena kesendirian ingin kehadiran.

Bukan nasihat.

Manusia yang Tersisa

Hari-hari berikutnya berjalan.

Aneh sekali.

Dunia tidak berhenti.

Matahari tetap terbit.

Pedagang tetap membuka warung.

Petani tetap pergi ke ladang.

Anak-anak tetap bermain.

Orang-orang tetap tertawa.

Padahal bagi Darman, dunia baru saja runtuh.

Ia pernah berpikir bahwa ketika seseorang kehilangan orang yang dicintainya, dunia akan ikut berduka.

Ternyata tidak.

Dunia tetap berjalan.

Dan itulah salah satu kenyataan paling kejam tentang kehidupan:

ketika hati kita berhenti, dunia tidak ikut berhenti.

Darman mulai bekerja.

Ia melakukan apa yang harus dilakukan.

Makan.

Tidur.

Bekerja.

Berbicara.

Tersenyum ketika diperlukan.

Tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang telah mati.

Bukan harapan.

Bukan cinta.

Melainkan dirinya yang lama.

Darman yang dulu percaya bahwa dunia memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan.

Darman yang dulu percaya bahwa kebaikan selalu mendapatkan balasan.

Darman yang dulu percaya bahwa orang yang berdoa tidak akan dibiarkan sendirian.

Semuanya perlahan runtuh.

Dan dari reruntuhan itu, sesuatu yang baru mulai tumbuh.

Bukan keyakinan.

Bukan pula penolakan.

Tetapi kesadaran.

Bahwa manusia harus belajar hidup meskipun tidak semua pertanyaannya dijawab.

Tubuh yang Ingin Hidup

Suatu malam, Darman duduk sendirian di depan rumah.

Ia melihat kedua tangannya.

Tangan yang pernah memegang tangan ibunya.

Tangan yang pernah menggenggam tanah.

Tangan yang pernah menulis pertanyaan tentang Tuhan.

Ia tersenyum getir.

Betapa aneh manusia.

Tubuh ingin hidup.

Hati ingin dicintai.

Jiwa ingin damai.

Pikiran ingin memahami semuanya.

Mata ingin tidur.

Ego ingin diakui.

Masa kecil ingin disembuhkan.

Masa lalu ingin diselesaikan.

Kesendirian ingin ditemani.

Dan hidup…

ingin memiliki alasan.

Tetapi manusia sering memaksa dirinya memenuhi semua keinginan itu sekaligus.

Lalu ketika tidak sanggup, ia menyebut dirinya gagal.

Padahal mungkin manusia bukan gagal.

Mungkin ia hanya terlalu lama mencoba menjadi segala sesuatu untuk semua orang.

Darman menatap rumahnya.

Kosong.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi bertanya:

“Mengapa Tuhan melakukan ini kepadaku?”

Pertanyaannya berubah menjadi:

“Apa yang akan kulakukan dengan semua yang telah terjadi kepadaku?”

Pertanyaan itu terasa jauh lebih berat.

Karena kali ini ia tidak bisa menyalahkan siapa pun.

Jawabannya ada di tangannya sendiri.

Luka yang Tidak Perlu Disembunyikan

Darman akhirnya memahami bahwa kehilangan tidak selalu harus disembuhkan.

Ada luka yang memang akan tinggal.

Bukan untuk menghancurkan kita.

Tetapi untuk mengingatkan bahwa kita pernah mencintai sesuatu dengan begitu dalam.

Ia tidak perlu melupakan ibunya.

Ia tidak perlu berpura-pura kuat.

Ia tidak perlu tersenyum setiap kali seseorang berkata,

“Sudahlah.”

Tidak.

Ia boleh menangis.

Ia boleh marah.

Ia boleh kecewa.

Ia bahkan boleh bertanya kepada Tuhan berkali-kali.

Karena mungkin iman bukan tentang tidak pernah bertanya.

Mungkin iman—bagi mereka yang memilih untuk tetap percaya—justru tentang keberanian membawa pertanyaan kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.

Dan bagi Darman, untuk sementara waktu, ia belum tahu apakah ia masih percaya.

Tetapi ia tahu satu hal:

ia tidak ingin menjadi manusia yang berhenti peduli hanya karena pernah disakiti kehidupan.

Ia tidak ingin penderitaannya menjadi alasan untuk membuat orang lain menderita.

Ia tidak ingin kematian ibunya menjadi sia-sia.

Awal dari Sebuah Perjalanan

Beberapa bulan kemudian, Darman meninggalkan desa.

Bukan karena membenci tempat itu.

Tetapi karena ia sadar bahwa jika terus tinggal, ia mungkin akan menghabiskan hidup hanya dengan bertanya mengapa.

Ia ingin mencari jawaban.

Tentang manusia.

Tentang kemiskinan.

Tentang agama.

Tentang kekuasaan.

Tentang cinta.

Tentang dirinya sendiri.

Dan mungkin juga tentang Tuhan.

Ia membawa sedikit pakaian.

Sebuah buku tua.

Dan sebuah kalimat yang pernah ditulisnya bertahun-tahun lalu:

“Tuhan, jika Engkau memang ada, jangan biarkan aku menemukan-Mu di tempat yang salah.”

Kini ia menambahkan satu kalimat lagi di bawahnya:

“Dan jika suatu hari aku menemukan-Mu, semoga aku tidak sedang menjadi alasan mengapa orang lain kehilangan harapan.”

Darman berjalan meninggalkan rumah.

Tidak ada musik.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada seseorang yang menyaksikan kepergiannya seperti dalam cerita kepahlawanan.

Hanya seorang manusia muda yang berjalan dengan luka yang belum sembuh.

Ia tidak tahu ke mana hidup akan membawanya.

Ia tidak tahu siapa yang akan ditemuinya.

Ia tidak tahu bahwa dunia di luar desanya jauh lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan.

Dan ia sama sekali tidak tahu…

bahwa perjalanan mencari Tuhan itu kelak justru akan mempertemukannya dengan manusia-manusia yang membuatnya kembali mempertanyakan arti Tuhan.

Karena terkadang,

kita pergi jauh untuk mencari jawaban, hanya untuk menemukan bahwa pertanyaan yang sebenarnya selama ini adalah tentang diri kita sendiri.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Darman tidur tanpa meminta jawaban kepada langit.

Ia hanya berkata:

“Besok aku akan mencoba lagi.”

Mungkin itu bukan doa.

Mungkin itu bukan keyakinan.

Tetapi untuk seorang manusia yang hampir kehilangan semuanya—

keinginan untuk mencoba lagi sudah merupakan bentuk keberanian.

Tanah Lebih Jujur daripada Langit (BAB KETIGA)

Catatan Penulis / Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Ketiga. Jika Anda belum membaca awal mula kisah ini atau ingin menyegarkan ingatan tentang kejadian sebelumnya, silakan baca Bab Pertama di sini terlebih dahulu sebelum melanjutkan.

Selamat membaca!


“Ada kehilangan yang membuat manusia menangis. Ada yang membuatnya marah. Dan ada kehilangan yang perlahan mengubah cara seseorang memandang seluruh kehidupan.”


Ketika Desa Mulai Kehabisan Napas

Paceklik akhirnya berganti menjadi bencana pernapasan massal.

Debu kering dari ladang tembakau yang terbakar matahari bercampur dengan debu jalanan, beterbangan memasuki rumah-rumah warga melalui celah dinding dan jendela yang tak pernah benar-benar tertutup.

Anak-anak batuk.

Orang-orang tua sesak.

Para buruh yang setiap hari bekerja di ladang mulai mengeluhkan dada yang terasa berat, seolah ada tangan tak kasatmata yang perlahan meremas paru-paru mereka.

Namun desa itu tetap berjalan seperti biasa.

Orang-orang masih pergi ke ladang.

Pasar masih buka.

Dan di beberapa sudut kampung, para pemuka kepercayaan masih sibuk mencari penyebab gaib dari bencana yang semakin nyata.

Ada yang mengatakan leluhur sedang murka.

Ada yang menuduh warga kurang beribadah.

Ada pula yang menyarankan ritual tambahan agar penyakit tidak menyebar.

Manusia memang memiliki kecenderungan aneh: ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak mampu mereka kendalikan, mereka sering kali menciptakan penjelasan yang membuat mereka merasa masih memiliki kendali.

Mereka mencari kambing hitam.

Mencari dosa.

Mencari kutukan.

Apa saja, selama tidak perlu mengakui bahwa mungkin ada kelalaian manusia yang harus dipertanggungjawabkan.

Di bilik bambu yang semakin pengap, ibu Darman sudah tidak sanggup lagi berdiri.

Tubuhnya terbaring di atas balai-balai.

Napasnya pendek-pendek.

Setiap tarikan udara terdengar seperti kain kasar yang disobek perlahan.

Darman duduk di sampingnya, memegang tangan yang dahulu begitu cekatan melinting tembakau.

Kini jemari itu hanya bergerak sedikit ketika disentuh.

"Ibu haus?"

Perempuan itu mengangguk.

Darman mengambil cangkir.

Membantu ibunya minum seteguk demi seteguk.

Air sederhana.

Namun bagi orang yang sedang sekarat, bahkan seteguk air dapat terasa seperti pemberian terbesar yang pernah diterima tubuh.

Darman memandangi wajah ibunya.

Wajah yang mulai kehilangan warna.

Wajah yang telah menghabiskan puluhan tahun mengabdi kepada pekerjaan yang tidak pernah memberinya cukup untuk hidup layak.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut.

Bukan takut kepada neraka.

Bukan takut kepada kutukan.

Melainkan takut kehilangan seseorang yang selama ini menjadi alasan mengapa ia masih merasa memiliki rumah.

“Masa kecil ingin pemulihan. Hati ingin cinta. Tubuh ingin istirahat. Namun ada manusia yang menghabiskan seluruh hidupnya memenuhi kebutuhan orang lain, sampai lupa bahwa dirinya sendiri juga pantas diselamatkan.”

Kabar Duka dari Rumah yang Terlalu Sunyi

Sore itu, Darman sedang mencari kayu bakar ketika seorang anak kecil berlari melewati halaman rumahnya.

"Darman!"

Anak itu berhenti dengan napas tersengal.

"Ada apa?"

"Anak yang dulu mencuri singkong..."

Darman menatapnya.

"Kenapa?"

Anak itu menelan ludah.

"Sudah meninggal."

Darman tidak langsung memahami kalimat itu.

Bukan karena ia tidak mengerti arti kematian.

Melainkan karena sebagian dirinya masih berharap dunia tidak akan benar-benar sekejam itu.

"Di mana?"

"Di rumahnya."

Anak itu menunduk.

"Katanya dari tadi pagi tidak bangun."

Kayu bakar terlepas dari tangan Darman.

Beberapa batang jatuh ke tanah.

Ia tidak memungutnya.

Ia hanya berdiri, memandang jalan setapak yang dipenuhi debu.

Anak kecil itu.

Anak yang pernah ia lihat menggenggam sebatang singkong dengan kedua tangan gemetar.

Anak yang menangis bukan karena pipinya ditampar, melainkan karena makanan terakhirnya jatuh ke tanah.

Anak yang kemudian dijadikan bahan gunjingan.

Dituduh membawa kesialan.

Dijauhkan oleh masyarakat yang merasa dirinya lebih suci.

Kini anak itu telah pergi.

Bukan karena kutukan.

Bukan karena roh jahat.

Bukan karena leluhur murka.

Melainkan karena perutnya kosong berhari-hari dan tubuhnya tidak sanggup lagi melawan penyakit yang dibiarkan berkembang.

Darman berjalan menuju rumah anak itu.

Langkahnya berat.

Di sepanjang jalan, ia melihat beberapa warga berdiri bergerombol.

Mereka berbicara dengan suara rendah.

Sebagian tampak prihatin.

Sebagian lainnya hanya ingin mengetahui kabar terbaru.

Kematian seseorang pun rupanya bisa menjadi tontonan.

Sesampainya di rumah korban, Darman melihat tubuh kecil itu telah dibungkus kain lusuh.

Kain yang terlalu besar untuk tubuh sekecil itu.

Di sampingnya, seorang perempuan tua menangis tanpa suara.

Mungkin ibunya.

Mungkin neneknya.

Mungkin satu-satunya orang yang masih memeluknya ketika seluruh desa memilih menjauh.

Darman berdiri di ambang pintu.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena debu.

Melainkan karena kesadaran bahwa anak itu sebenarnya tidak harus mati.

Ia bisa saja hidup.

Jika seseorang memberinya makanan.

Jika seseorang mengulurkan tangan.

Jika seseorang memilih menolong daripada menghakimi.

Namun tidak ada yang melakukannya.

Dan sekarang, semua orang akan pulang membawa cerita tentang kematian.

Bukan tanggung jawab.

Kehendak Siapa?

Pemuka agama yang dahulu menampar anak itu datang beberapa saat kemudian.

Ia mengenakan pakaian putih bersih.

Wajahnya tenang.

Suaranya lembut.

Seolah kematian yang berada di hadapannya merupakan bagian dari susunan acara yang sudah ia hafal.

Ia berdiri di depan rumah korban, lalu berkata kepada kerumunan:

"Ini sudah kehendak-Nya. Ujian bagi kita semua agar semakin bertakwa."

Beberapa warga mengangguk.

Sebagian mengucapkan amin.

Darman yang berdiri di dekat pintu mengangkat wajahnya.

"Kehendak siapa?"

Suaranya tidak keras.

Namun cukup untuk membuat percakapan di sekitar mereka berhenti.

Pemuka agama itu menoleh.

Darman melangkah maju.

"Anak ini mati karena perutnya kosong."

Tidak ada yang bergerak.

"Dia mati karena tangannya ditampar ketika mencari makan. Dia mati karena tidak ada seorang pun yang merasa perlu memberinya pertolongan."

Pemuka agama itu mengerutkan dahi.

"Jangan lancang, Darman. Nyawa itu di tangan Tuhan."

Darman memandang tubuh kecil yang terbungkus kain.

Kemudian kembali menatap lelaki di hadapannya.

"Kalau begitu, mengapa kita menggunakan nama Tuhan untuk mencuci tangan dari kematian yang mungkin bisa kita cegah?"

Kerumunan mulai gelisah.

"Jaga ucapanmu!"

"Apakah saya salah?"

"Kematian adalah takdir!"

"Dan apakah takdir mengharuskan kita menampar orang lapar?"

Tidak ada jawaban.

Darman melanjutkan, kali ini lebih pelan.

"Ketika dia mencuri singkong, kalian menyebutnya pendosa. Ketika dia kelaparan, kalian menyebutnya pembawa sial. Ketika dia mati, kalian menyebutnya ujian."

Ia mengedarkan pandangan kepada warga.

"Adakah satu pun dari kalian yang bersedia menyebutnya korban?"

Kalimat itu menggantung di udara.

Tidak seorang pun menjawab.

Sang pemuka agama akhirnya berkata:

"Jangan menghakimi kehendak Tuhan."

Darman tersenyum tipis.

Senyum yang tidak mengandung kebahagiaan.

"Saya tidak sedang menghakimi Tuhan."

Ia menatap kain yang membungkus tubuh anak itu.

"Saya sedang menghakimi manusia yang masih hidup, tetapi bertindak seolah-olah tidak punya tanggung jawab atas kematian orang lain."

“Kita sering menyebut sesuatu sebagai takdir ketika terlalu pengecut untuk mengakui bahwa ada kesalahan yang seharusnya kita pertanggungjawabkan.”

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain batuk seorang lelaki tua di belakang kerumunan.

Kemudian seseorang berbisik:

"Dia benar-benar sudah sesat."

Dan seperti biasa, kerumunan lebih cepat mengulang sebuah cap daripada memikirkan sebuah pertanyaan.

Ketika Kesedihan Tidak Lagi Memiliki Tempat

Malam tiba.

Darman pulang ke rumah dengan langkah yang tidak beraturan.

Ibunya masih terbaring.

Lampu minyak menyala kecil di sudut ruangan.

Bapaknya belum pulang dari ladang.

Darman duduk di lantai.

Ia tidak menyalakan lampu tambahan.

Tidak memasak.

Tidak membaca.

Hanya duduk.

Kematian anak kecil itu berputar-putar di kepalanya.

Wajahnya.

Tangannya.

Singkong yang jatuh.

Tamparan.

Lapar.

Batuk.

Kain kafan.

Semuanya seperti potongan-potongan gambar yang tidak bisa disusun menjadi sesuatu yang masuk akal.

Darman pernah berpikir bahwa kemarahan dapat mengubah dunia.

Bahwa jika seseorang cukup berani menunjukkan kebodohan, orang-orang akan tersadar.

Namun malam itu, ia mulai mengerti bahwa manusia tidak selalu berubah hanya karena diperlihatkan penderitaannya.

Sebagian justru semakin keras mempertahankan keyakinan.

Sebab mengakui kesalahan berarti harus mengakui bahwa selama ini mereka mungkin telah ikut membiarkan seseorang mati.

Dan tidak semua orang memiliki keberanian untuk hidup bersama rasa bersalahnya sendiri.

Ibunya bergerak pelan.

"Darman..."

"Iya, Bu?"

"Kenapa belum tidur?"

"Belum ngantuk."

Perempuan itu menatapnya.

Meskipun tubuhnya lemah, ia masih mampu mengenali kesedihan di wajah anaknya.

"Jangan terlalu banyak berpikir."

Darman tersenyum kecil.

"Kalau tidak berpikir, Bu, nanti siapa yang akan bertanya?"

Ibunya tidak menjawab.

Mungkin tidak memahami.

Mungkin terlalu lelah.

Atau mungkin ia memahami lebih banyak daripada yang Darman kira, tetapi tidak memiliki tenaga untuk mengatakannya.

Darman berbaring di dekat balai-balai.

Ia mendengar napas ibunya.

Pendek.

Berat.

Terputus-putus.

Dan dalam kesunyian itu, ia menyadari sesuatu yang belum pernah ia akui sebelumnya:

Ia tidak hanya marah kepada Tuhan.

Ia juga takut kepada kehidupan.

Takut bahwa semua yang dicintainya akan direnggut satu per satu, sementara dirinya tidak mampu melakukan apa-apa.

Bukit dan Langit yang Tidak Menjawab

Malam semakin larut.

Darman keluar dari rumah.

Ia berjalan menuju bukit tertinggi di pinggir desa.

Tempat yang dahulu sering ia datangi ketika masih kecil, ketika dunia belum terasa sekejam sekarang.

Angin malam menyapu wajahnya.

Tanah kering menempel di telapak kakinya.

Dari atas bukit, rumah-rumah warga terlihat seperti titik-titik kecil yang tertidur di bawah langit luas.

Ia duduk.

Lalu berlutut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak membaca doa hafalan.

Tidak mengulang kalimat yang diajarkan sejak kecil.

Tidak meminta rezeki.

Tidak meminta ampun.

Tidak meminta surga.

Ia hanya berbicara.

Kepada langit.

Kepada kesunyian.

Kepada sesuatu yang bahkan tidak mampu ia pastikan keberadaannya.

"Tuhan..."

Suaranya bergetar.

"Jika Engkau memang ada..."

Ia berhenti.

Menelan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokan.

"Bukan sebagai nama yang dipakai para penipu. Bukan sebagai alasan atas penindasan Kartawa. Bukan sebagai dongeng yang digunakan orang-orang untuk menakut-nakuti sesamanya."

Darman menatap langit.

"Jika Engkau memang Sang Pencipta..."

Ia mengambil sehelai daun kering dari tanah.

"Berikan satu saja tanda."

Daun itu diletakkan di hadapannya.

"Kecil saja."

Ia tersenyum getir.

"Gerakkan daun ini."

Angin berembus.

Daun itu bergeser sedikit.

Darman menatapnya.

Kemudian tertawa pelan.

"Bukan itu."

Ia menunduk.

"Berikan kehangatan pada dada ibuku malam ini."

Suara Darman semakin lirih.

"Atau setidaknya, berikan aku alasan untuk percaya bahwa semua penderitaan ini tidak sia-sia."

Ia menunggu.

Satu menit.

Lima menit.

Setengah jam.

Satu jam.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada jawaban yang turun dari langit untuk menjelaskan mengapa seorang anak harus mati kelaparan, mengapa ibunya sekarat, atau mengapa manusia begitu mudah menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan kekejaman.

Hanya angin.

Hanya suara jangkrik.

Hanya langit yang membentang tanpa memberikan kepastian.

Darman menunduk.

Untuk beberapa saat, ia merasa seluruh hidupnya sedang menunggu sesuatu yang mungkin tidak pernah datang.

Dan menunggu sesuatu yang tidak pasti adalah salah satu bentuk kesepian paling melelahkan yang dapat dialami manusia.

“Kesendirian ingin kehadiran. Hati ingin cinta. Jiwa ingin kedamaian. Namun ada malam ketika manusia hanya ditemani pertanyaan-pertanyaannya sendiri.”

Kedamaian yang Terasa Seperti Kehilangan

Darman duduk lebih lama.

Ia tidak lagi menangis.

Tidak lagi marah.

Bahkan tidak lagi meminta.

Perasaan yang tersisa di dalam dirinya bukanlah kebencian.

Melainkan kehampaan.

Kehampaan yang aneh.

Seperti sebuah ruangan yang selama ini dipenuhi suara, lalu tiba-tiba seluruh penghuninya pergi.

Ia teringat masa kecilnya.

Lantunan doa di telinga kanan.

Ancaman neraka di telinga kiri.

Nasihat tentang kesabaran.

Janji tentang keadilan.

Cerita tentang Tuhan yang Maha Pengasih.

Semua itu pernah terasa kokoh.

Pernah menjadi tempatnya bersandar.

Namun malam ini, ketika ia membutuhkan jawaban paling sederhana—mengapa orang yang tidak bersalah harus menderita—tidak ada satu pun yang mampu memberinya kepastian.

Darman mulai memahami bahwa mungkin selama ini ia tidak hanya percaya kepada Tuhan.

Ia juga percaya kepada gagasan bahwa dunia memiliki susunan moral yang pada akhirnya akan memperbaiki segala sesuatu.

Bahwa penderitaan akan dibalas.

Bahwa kejahatan akan dihukum.

Bahwa orang baik tidak akan benar-benar kalah.

Namun kenyataan tidak selalu bekerja seperti cerita yang diajarkan manusia kepada anak-anaknya.

Orang baik bisa mati tanpa sempat menikmati hasil kebaikannya.

Orang jahat bisa hidup panjang dengan rumah besar dan nama yang harum.

Dan dunia tidak selalu menyediakan penjelasan yang memuaskan bagi mereka yang terluka.

Darman memandang kedua tangannya.

Tangan yang belum mampu menyelamatkan anak kecil itu.

Tangan yang tidak memiliki uang untuk menyembuhkan ibunya.

Tangan yang hanya bisa menulis pertanyaan di buku lusuh.

Ia tertawa kecil.

Bukan karena telah menemukan jawaban.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia berhenti memaksa dunia memberikan jawaban yang mungkin memang tidak dimilikinya.

Dunia yang Tidak Menjanjikan Keadilan

Fajar mulai mendekat ketika Darman berdiri.

Langit masih gelap.

Namun di ujung timur, warna kelabu perlahan muncul.

Ia memandang desa di bawah bukit.

Rumah-rumah.

Ladang.

Jalanan.

Tempat-tempat yang selama ini menjadi saksi penderitaan manusia.

Tidak ada tangan gaib yang terlihat mengatur siapa yang kaya dan siapa yang miskin.

Tidak ada cahaya yang turun untuk menghentikan keserakahan.

Tidak ada suara yang memaksa manusia berbuat baik.

Yang ada hanyalah manusia.

Dengan pilihan-pilihannya.

Dengan keserakahannya.

Dengan ketakutannya.

Dengan kemampuannya untuk menolong atau menyakiti.

Darman belum mengetahui apakah kesimpulannya benar.

Ia juga belum mampu memastikan bahwa langit benar-benar kosong.

Namun satu hal mulai ia pahami:

Jika manusia ingin menyelamatkan manusia lain, mereka tidak bisa terus menunggu pertolongan yang tidak pernah mereka pastikan akan datang.

Jika ada anak kelaparan, seseorang harus memberinya makan.

Jika ada orang sakit, seseorang harus mencarikan obat.

Jika ada ketidakadilan, seseorang harus berani menghadapinya.

Bukan karena takut neraka.

Bukan karena mengharap surga.

Bukan pula demi mendapatkan pujian.

Melainkan karena penderitaan manusia adalah sesuatu yang nyata.

Dan kenyataan tidak seharusnya menunggu pembenaran dari langit.

Darman menuruni bukit.

Langkahnya tidak menjadi lebih ringan.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Ia tidak lagi berjalan sambil menunggu jawaban.

Ia berjalan sambil membawa pertanyaan itu bersamanya.


Penutup Bab 3

Ketika Darman tiba di rumah, matahari belum sepenuhnya terbit.

Ibunya masih terbaring.

Napasnya terdengar lebih lemah daripada malam sebelumnya.

Darman duduk di sampingnya.

Menggenggam tangannya.

"Ibu..."

Perempuan itu membuka mata.

"Darman sudah pulang?"

"Iya, Bu."

"Sudah makan?"

Darman menggeleng.

Ibunya berusaha tersenyum.

"Jangan lupa makan."

Darman menunduk.

Ada sesuatu yang menusuk dadanya.

Bahkan ketika tubuhnya sendiri hampir menyerah, ibunya masih memikirkan apakah anaknya sudah makan.

Begitulah cinta kadang bekerja.

Ia tidak selalu hadir dalam kata-kata indah.

Tidak selalu berupa pelukan panjang.

Kadang ia hanya muncul sebagai pertanyaan sederhana dari seseorang yang sedang menahan sakit:

"Sudah makan?"

Darman mencium tangan ibunya.

Lalu duduk diam di samping balai-balai.

Di luar, desa mulai terbangun.

Orang-orang kembali bekerja.

Pengeras suara kembali berbunyi.

Dan dunia, dengan segala ketidakadilannya, terus berjalan.

“Masa lalu ingin penyelesaian. Luka ingin pemulihan. Pikiran ingin jawaban. Namun hidup tidak selalu memberi kita kesempatan untuk menyelesaikan semuanya. Kadang ia hanya memberi waktu yang cukup untuk memilih: menjadi lebih pahit, atau menjadi lebih manusia.”

Darman menatap wajah ibunya.

Ia belum tahu apa yang akan terjadi setelah hari itu.

ada pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan:

Jika seluruh dunia tidak mampu menyelamatkan orang-orang yang kita cintai, kepada siapa kita harus meminta pertanggungjawaban?

Tanah Lebih Jujur daripada Langit (BAB KEDUA)

Catatan Penulis / Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Kedua. Jika Anda belum membaca awal mula kisah ini atau ingin menyegarkan ingatan tentang kejadian sebelumnya, silakan baca Bab Pertama di sini terlebih dahulu sebelum melanjutkan.

Selamat membaca!


“Perut yang lapar tidak membutuhkan janji tentang surga. Ia membutuhkan makanan. Dan manusia yang sedang sekarat tidak membutuhkan ceramah tentang kesabaran. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia menolong.”




Tubuh yang Dibayar dengan Racun


Dada ibu Darman berbunyi seperti gergaji tumpul setiap kali malam semakin dingin.

Di atas balai-balai bambu, perempuan itu terbatuk-batuk hingga tubuh kurusnya terkocok. Ia menutup mulut dengan kain lusuh, berusaha menyembunyikan bercak merah yang semakin sering muncul di sana.

Namun darah tidak pernah pandai menyembunyikan kenyataan.

Paru-parunya telah lama menjadi tempat penampungan debu dan asap.

Puluhan tahun jemarinya melinting tembakau milik orang lain. Setiap batang rokok yang selesai dibuat menghasilkan upah yang bahkan tidak cukup untuk membeli obat bagi tubuhnya sendiri.

Ia telah membantu memproduksi sesuatu yang membuat orang lain kaya, tetapi tidak mampu membeli kesembuhan untuk dirinya.

Begitulah kemiskinan bekerja dengan cara yang paling kejam.

Ia membuat manusia menghabiskan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan orang lain, sementara kebutuhan dirinya sendiri terus dipaksa menunggu.

Darman duduk di samping balai-balai, menggenggam cangkir air hangat.

"Ibu minum dulu."

Ibunya mengangguk lemah.

"Darman..."

"Iya, Bu?"

"Besok jangan lupa bantu bapak ke ladang."

Darman menunduk.

Bahkan dalam keadaan seperti itu, ibunya masih memikirkan pekerjaan.

Bukan karena ia tidak sakit.

Melainkan karena orang miskin sering kali tidak memiliki kemewahan untuk jatuh sakit.

Mereka boleh lelah, tetapi tidak boleh berhenti.

Mereka boleh menderita, tetapi tetap harus bekerja.

Dan ketika tubuh akhirnya menyerah, kematian sering kali datang bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai akhir dari kelelahan yang terlalu lama dipendam.

Tubuh ingin beristirahat, tetapi kemiskinan memaksanya terus bergerak. Hati ingin dicintai, tetapi kehidupan memaksanya sibuk bertahan. Dan manusia sering lupa bahwa bertahan hidup bukanlah hal yang sama dengan benar-benar hidup.

Darman memandang jemari ibunya.

Jemari yang kasar.

Penuh bekas luka kecil.

Jemari yang selama puluhan tahun menggulung daun tembakau untuk Juragan Kartawa.

Ia bertanya-tanya, berapa banyak kemewahan yang telah dibangun dari tangan-tangan seperti itu?

Dan berapa banyak orang miskin yang harus kehilangan kesehatan agar seseorang dapat disebut berhasil?

Panggung yang Lebih Terang daripada Rumah Orang Miskin

Sementara itu, di pusat desa, panggung megah berdiri dengan lampu-lampu gemerlap.

Suara pengeras menggelegar hingga ke rumah-rumah warga.

Malam itu, Juragan Kartawa duduk bersanding dengan seorang pemuka kerohanian muda yang sedang digandrungi masyarakat.

Pemuda itu terkenal bukan karena kedalaman ilmunya.

Ia dikenal karena gaya bicaranya yang gaul, penampilannya yang necis, leluconnya yang renyah, dan kepandaiannya membuat orang merasa sedang mendengarkan kebenaran meskipun sebagian besar yang keluar dari mulutnya hanyalah kalimat-kalimat yang menyenangkan telinga.

Warga berbondong-bondong datang.

Mereka tertawa.

Bersorak.

Di sudut warung, seorang cendekiawan tua duduk sendirian.

Ia dikenal pendiam, tekun, dan berilmu luas.

Bertahun-tahun ia mengajarkan pentingnya memeriksa kabar, membaca dengan teliti, dan tidak mudah menelan ucapan seseorang hanya karena orang itu mengenakan pakaian yang dianggap suci.

Namun tidak banyak yang mau mendengarkannya.

Bagi masyarakat yang telah terbiasa dengan hiburan, ilmu yang mendalam terasa seperti makanan hambar.

Mereka lebih menyukai suara yang menghibur daripada pikiran yang menantang.

Mereka menyukai orang yang membuat mereka merasa pintar tanpa harus berpikir.

Di atas panggung, sang penceramah mengangkat tangan.

"Saudara-saudaraku!"

"Juragan Kartawa adalah contoh nyata manusia yang diberkahi!"

Tepuk tangan pecah.

"Beliau bukan hanya kaya, tetapi juga dermawan. Semoga segala kebaikannya menjadi jalan menuju surga!"

Kartawa tersenyum.

Warga bersorak lebih keras.

Darman berdiri di tepi kerumunan.

Ia melihat bagaimana uang dapat membeli tepuk tangan.

Bagaimana sumbangan dapat menghapus pertanyaan.

Bagaimana seseorang bisa memperoleh citra kesucian hanya dengan membagikan sebagian kecil dari kekayaan yang dikumpulkannya melalui keringat orang lain.

Ia teringat ibunya.

Perempuan yang kini terbaring sakit karena bekerja di ladang tembakau.

Tak seorang pun di panggung itu membicarakan paru-paru buruh.

Tak seorang pun bertanya apakah upah mereka cukup untuk membeli obat.

Tak seorang pun menyebut keluarga yang harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya pengobatan.

Semua orang hanya membicarakan kebaikan.

Kebaikan yang terlihat.

Kebaikan yang bisa diumumkan melalui pengeras suara.

Darman menunduk dan bergumam:

Masyarakat ini tidak selalu membutuhkan kebenaran. Terkadang mereka hanya membutuhkan hiburan yang diberi stempel suci.

Namun di dalam hatinya, ia tahu persoalannya jauh lebih dalam.

Bukan hanya tentang Kartawa.

Bukan hanya tentang penceramah itu.

Melainkan tentang manusia yang rela menukar pertanyaan dengan kenyamanan.

Ketika Kelaparan Dianggap Kurang Berdoa

Bulan ketiga paceklik datang dengan wajah yang lebih buruk.

Sumur-sumur warga mengering.

Tanah sawah pecah-pecah seperti piring tua yang dilempar ke halaman.

Daun-daun menguning.

Hasil panen gagal.

Dan perut-perut kosong mulai menjadi pemandangan yang biasa.

Namun di tengah bencana itu, para penceramah populer dan kelompok-kelompok kepercayaan justru mengajak warga menggelar ritual penangkal malapetaka.

Mereka mengatakan bahwa bencana bukan semata-mata akibat kemarau panjang, pengelolaan pangan yang buruk, atau ketidakmampuan desa mengantisipasi musim paceklik.

Ada kekuatan gaib yang sedang marah.

Ada kesalahan spiritual yang harus ditebus.

Ada persembahan yang mesti disiapkan.

Keputusan itu disampaikan dengan penuh keyakinan.

Warga diminta membawa makanan terbaik.

Hewan sembelihan.

Minyak wangi.

Beras.

Harta benda.

Semuanya untuk menenangkan kekuatan yang tidak terlihat.

Orang-orang yang bahkan kesulitan memberi makan anaknya sendiri mulai mengumpulkan apa yang tersisa demi ritual tersebut.

Mereka takut.

Dan ketakutan adalah tanah paling subur bagi siapa pun yang ingin mengendalikan manusia.

Darman menyaksikan warga membawa nampan makanan menuju tempat-tempat keramat.

Ada yang menangis.

Ada yang berdoa keras-keras.

Ada yang percaya bahwa sedikit kelalaian dalam ritual akan membuat seluruh desa menerima bencana yang lebih besar.

Sementara itu, di balik dinding bambu tak jauh dari sana, anak kecil yang dahulu ditampar karena mencuri singkong terbaring lemas.

Perutnya kosong.

Tubuhnya dingin.

Ia memuntahkan cairan asam karena lambungnya tak lagi memiliki makanan untuk dicerna.

Tidak ada yang datang.

Tidak ada yang membawa beras.

Tidak ada yang bertanya apakah ia masih sanggup bertahan malam itu.

Darman mengepalkan tangan.

Ia mulai melihat ironi yang begitu telanjang, tetapi tidak seorang pun tampak merasa malu.

Mereka rela memberikan makanan kepada sesuatu yang mereka percaya menguasai nasib.

Namun enggan memberikan makanan kepada manusia yang nasibnya benar-benar berada di hadapan mata mereka.

Manusia kerap gentar pada bayang-bayang yang tak terlihat, namun dengan mudah membutakan mata dari derita yang nyata.

Makanan yang Dibakar, Anak yang Kelaparan

Setelah kerumunan bubar, Darman berjalan menuju lokasi ritual.

Sore telah turun.

Asap kemenyan masih menggantung di udara.

Sisa makanan berserakan.

Beberapa nampan berisi nasi dan lauk mulai dikerumuni lalat.

Ada ayam panggang yang belum tersentuh.

Ada buah-buahan yang masih utuh.

Ada beras yang tumpah ke tanah.

Semuanya perlahan akan membusuk.

Darman berdiri di tengah sisa-sisa persembahan itu.

Ia membayangkan wajah anak kecil yang terbaring lemah.

Kemudian ia menatap langit.

"Tuhan..."

Suaranya hampir tidak terdengar.

"Jika Engkau memang ada di atas sana, apa yang sebenarnya sedang kami lakukan?"

Ia memandang makanan yang dibuang.

"Apakah Engkau membutuhkan semua ini?"

Darman tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena ada jenis kesedihan yang terlalu dalam hingga hanya mampu keluar sebagai tawa getir.

"Jika Engkau Maha Kuasa, mengapa makanan ini harus dibakar agar Engkau berkenan, sementara anak-anak di rumah mereka sendiri tidak memiliki sesuatu untuk dimakan?"

Angin sore berembus.

Tidak ada jawaban.

Darman mengusap wajahnya.

Ia tahu pertanyaan itu mungkin akan kembali disebut sesat.

Namun semakin ia melihat penderitaan di sekitarnya, semakin sulit baginya menerima jawaban yang hanya meminta manusia diam dan bersabar.

Sabar.

Kata itu mulai terasa asing.

Sebab kesabaran yang tidak disertai tindakan dapat berubah menjadi alasan untuk membiarkan kejahatan terus berlangsung.

Dan doa yang tidak pernah mendorong manusia menolong sesamanya, mungkin hanya menjadi cara lain untuk merasa telah melakukan sesuatu.

Percakapan dengan Bapak

Malamnya, Darman duduk di teras bersama bapaknya.

Lelaki tua itu baru pulang dari ladang tembakau.

Bajunya penuh debu.

Tangannya kasar.

Ia menyalakan sisa lintingan murah, lalu menarik napas panjang.

Dada lelaki itu berbunyi pelan.

Krek.

Darman memperhatikan asap yang keluar dari mulut bapaknya.

Asap yang berasal dari tanaman yang selama ini mereka tanam sendiri.

"Pak."

"Hm?"

"Kenapa orang-orang lebih suka mendengarkan penceramah yang pandai bersolek daripada orang berilmu?"

Bapaknya diam.

"Kenapa mereka memuja orang yang meracuni paru-paru kita, hanya karena orang itu membagikan sedikit beras?"

Bapaknya menatap halaman.

"Darman, jangan bicara macam-macam."

"Tapi, Pak—"

"Ucapanmu itu bisa membawa masalah."

Darman menahan napas.

Kemudian bertanya dengan suara yang lebih pelan.

"Kenapa Bapak masih percaya kepada Tuhan yang sama sekali tidak pernah menolong kita?"

Bapaknya menoleh.

Ada ketakutan di matanya.

Bukan kemarahan.

Ketakutan.

Seolah pertanyaan anaknya bukan sekadar pertanyaan, melainkan pintu menuju sesuatu yang tidak sanggup ia hadapi.

"Darman..."

"Iya, Pak?"

"Kalau kita tidak percaya Tuhan dan takdir, kita mau berharap kepada siapa lagi saat hidup kita tertindas?"

Darman terdiam beberapa detik.

Lalu ia menjawab:

"Itu masalahnya, Pak."

Suaranya mulai meninggi.

"Kita diajari berharap pada sesuatu yang tidak bisa kita lihat, sementara orang-orang yang menindas kita berdiri tepat di depan mata!"

Bapaknya menghela napas.

"Tuhan bukan penyebab kemiskinan kita."

"Mungkin bukan. Tapi nama Tuhan terus dipakai agar kita menerima kemiskinan ini seolah-olah tidak boleh melawan!"

"Darman, cukup."

"Kita bekerja seumur hidup, Pak! Ibu sakit karena tembakau! Bapak sendiri setiap hari menghirup racun dari ladang yang sama! Tapi orang yang menjual semua itu justru dipuja sebagai orang baik!"

Bapaknya menunduk.

Darman melanjutkan, kini dengan suara yang bergetar:

"Kalau Tuhan itu Maha Adil, kenapa keadilan selalu berhenti di mulut orang-orang yang paling banyak bicara tentang-Nya?"

Bapaknya tidak menjawab.

Ia hanya menatap rokok di antara jemarinya.

Bara kecil di ujung lintingan menyala.

Lalu perlahan menjadi abu.

Keyakinan yang Berubah Menjadi Kemarahan

Sejak malam itu, keraguan di kepala Darman berubah bentuk.

Sebelumnya, ia masih berharap ada penjelasan yang dapat mendamaikan akal dan keyakinannya.

Ia masih mencari.

Masih membaca.

Masih berdoa.

Namun kini, sesuatu di dalam dirinya mulai mengeras.

Ia melihat pola yang sama di mana-mana.

Orang kaya membeli citra kesucian melalui sumbangan.

Orang miskin diajari menerima penderitaan sebagai ujian.

Figur populer dipuja meskipun miskin ilmu.

Orang yang bertanya dicap sesat.

Dan konsep ketuhanan kerap dipakai untuk memberi pembenaran pada keadaan yang tidak adil.

Darman mulai menyimpulkan bahwa dunia di sekitarnya tidak dibangun berdasarkan keadilan.

Dunia bekerja berdasarkan kekuasaan.

Uang.

Ketakutan.

Dan kemampuan manusia memengaruhi pikiran manusia lainnya.

Kesimpulan itu membuatnya marah.

Namun kemarahan yang terlalu lama dipelihara dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya daripada kebencian.

Ia dapat membuat seseorang merasa bahwa hanya dirinya yang mampu melihat kebenaran.

Dan ketika seseorang mulai menganggap dirinya satu-satunya manusia yang sadar, ia mungkin sedang membangun penjara baru di dalam pikirannya sendiri.

Darman belum menyadari hal itu.

Ia masih terlalu sibuk melawan apa yang menurutnya merupakan kebohongan terbesar dalam hidup manusia.

Malam itu, ia membuka buku catatannya.

Lampu minyak bergoyang tertiup angin.

Pena kembali bergerak.

Ia menulis:

Tuhan yang disembah manusia mungkin bukan pencipta alam semesta, melainkan bayangan dari ketakutan mereka sendiri.

Darman berhenti.

Memandangi kalimat itu.

Kemudian melanjutkan:

Mungkin manusia menciptakan Tuhan karena mereka tidak sanggup menerima kenyataan bahwa hidup ini penuh penderitaan dan tidak selalu menyediakan jawaban.

Ia menarik napas.

Namun jika Tuhan benar-benar ada dan membiarkan dunia dikuasai oleh manipulasi, racun, serta kedunguan, mengapa manusia masih menggunakan nama-Nya untuk membenarkan semua itu?

Pena di tangannya semakin cepat.

Kalimat-kalimat berikutnya lahir dari kemarahan yang belum menemukan tempat untuk pulang.

Jika Tuhan tidak ada, maka berhentilah menengadah ke langit sambil mengabaikan kejahatan di depan mata. Dan jika Tuhan ada, semoga Dia tidak tersinggung ketika seorang manusia miskin bertanya mengapa manusia lain dibiarkan menderita atas nama-Nya.

Darman menutup buku itu.

Namun kali ini, ia tidak merasa lebih ringan.

Sebab ada pertanyaan yang tidak selesai hanya dengan menuliskannya.

Ada luka yang tidak sembuh hanya karena berhasil diberi nama.

Dan ada kemarahan yang, jika tidak dijinakkan oleh kebijaksanaan, perlahan dapat mengubah orang yang ingin melawan ketidakadilan menjadi manusia yang tidak lagi mampu melihat kelemahan orang lain.

Penutup Bab 2

Malam semakin larut.

Darman berbaring di samping ibunya yang tertidur gelisah.

Dari luar, terdengar suara orang-orang masih membicarakan ritual paceklik.

Sebagian percaya bencana akan segera berakhir.

Sebagian menyalahkan orang-orang yang dianggap kurang beriman.

Dan sebagian lainnya hanya menunggu keajaiban yang tidak pernah mereka usahakan.

Darman memejamkan mata.

Namun sebelum tidur, sebuah pikiran melintas di kepalanya:

“Mungkin yang paling menyedihkan dari manusia bukanlah ketika ia kehilangan Tuhan, melainkan ketika ia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara pengharapan dan penyerahan diri.”

Di sampingnya, ibunya kembali batuk.

Darman membuka mata.

Ia menoleh.

Perempuan itu masih hidup.

Masih bernapas.

Masih berjuang.

Dan untuk pertama kalinya, Darman merasa bahwa waktu tidak lagi berjalan sebagai sesuatu yang netral.

Waktu sedang mengambil sesuatu darinya.

Sedikit demi sedikit.

Tanpa menunggu izin.