“Sebelum manusia mengenal siapa dirinya, dunia telah lebih dulu memberinya nama, agama, kelas sosial, dan dosa-dosa yang bahkan belum sempat ia lakukan.”
PART I
Anak yang Dilahirkan oleh Ketakutan
Namanya Darman Sastrodiharjo.
Orang sekampung cukup memanggilnya Darman.
Ia lahir dari rahim seorang perempuan buruh tani pelinting rokok, di atas tanah yang bahkan tidak pernah benar-benar menjadi milik bapaknya. Seumur hidup, bapaknya mencangkul kebun tembakau milik tuan tanah, menanam sesuatu yang tak akan pernah bisa ia miliki, sementara ibunya menghabiskan masa mudanya membalut daun-daun kering menjadi batang-batang candu.
Mereka bekerja agar orang lain bisa kaya.
Mereka menghirup debu agar orang lain bisa menghirup kemewahan.
Dan dari upah murah itulah, ibunya menyuruh Darman mendatangi tempat ibadah.
Bukan agar kelak ia menjadi manusia suci yang diagungkan.
Melainkan agar ia tidak tumbuh menjadi pencuri.
Sebab bagi orang miskin, bahkan moralitas pun kadang diwariskan sebagai alat untuk bertahan hidup.
Anak orang kaya boleh salah langkah dan disebut sedang mencari pengalaman. Anak orang miskin melakukan kesalahan kecil, lalu seluruh kampung merasa berhak menghakimi masa depannya.
Darman dilahirkan sebagai orang beragama.
Bukan karena ia memilih, melainkan karena ia terlambat menolak.
Sejak bayi, telinga kanannya diisi lantunan doa, sementara telinga kirinya diperkenalkan pada ancaman neraka. Sebelum memahami arti suci, ia sudah diajari ketakutan. Sebelum mengenal kasih sayang, ia telah diberi daftar panjang tentang hal-hal yang harus ditakuti.
Ia diajari cara menundukkan kepala sebelum sempat bertanya mengapa.
Ia diajari menghafal sebelum sempat memahami.
Ia diajari percaya sebelum sempat memilih.
Dan begitulah sebagian besar manusia dibesarkan: menerima jawaban-jawaban dari dunia sebelum memiliki kesempatan untuk merumuskan pertanyaan sendiri.
Darman tumbuh menjadi pemuda yang patuh pada ritual. Ia hafal tata cara ibadah, doa-doa, aturan kesucian, dan berbagai larangan yang membuat hidupnya dipenuhi batas-batas tak kasatmata.
Namun semakin dewasa, semakin sering ia menemukan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Ada orang-orang yang rajin menyebut nama Tuhan, tetapi tega menyakiti manusia.
Ada orang-orang yang paling lantang berbicara tentang surga, tetapi membiarkan tetangganya kelaparan.
Ada orang-orang yang mengaku menjaga kesucian, tetapi diam-diam memelihara keserakahan.
Darman mulai bertanya-tanya:
Apakah Tuhan benar-benar hadir dalam kehidupan manusia?
Ataukah nama-Nya hanya dipinjam oleh manusia untuk membenarkan apa pun yang ingin mereka lakukan?
Pertanyaan itu tumbuh perlahan.
Seperti retakan kecil pada dinding rumah.
Mula-mula tidak terlihat.
Lalu melebar.
Hingga suatu hari, seluruh bangunan keyakinan yang selama ini dianggap kokoh mulai terasa rapuh.
PART II
Tuhan di Atas Tanah Milik Juragan
Ketimpangan itu paling jelas terlihat pada sosok Juragan Kartawa.
Pemilik kebun tembakau terbesar di desa.
Di mata warga, Kartawa adalah tokoh adat, dermawan, sekaligus pahlawan yang konon menjadi berkah bagi kehidupan kampung.
Ia rajin menyponsori pesta rakyat.
Memberikan sumbangan besar ke rumah ibadah.
Membagi-bagikan beras menjelang hari raya.
Namanya disebut dalam doa-doa para pemuka agama.
Wajahnya dipajang dalam acara-acara desa.
Namun hampir tak seorang pun mau bertanya dari mana kekayaan itu berasal.
Sebab manusia sering kali lebih tertarik pada tangan yang memberi daripada tangan yang sebelumnya merampas.
Kartawa memperkaya diri dari tembakau yang ditanam, dipanen, dan dilinting oleh orang-orang miskin seperti orang tua Darman.
Dari hasil keringat mereka, ia membangun rumah besar.
Dari paru-paru mereka, ia membeli kendaraan.
Dari upah yang ditekan serendah mungkin, ia mengumpulkan kekayaan yang tak akan habis dimakan tujuh keturunan.
Sementara itu, asap rokok yang diproduksi dari kebun-kebunnya perlahan menggerogoti tubuh warga.
Anak-anak batuk menahun.
Orang-orang tua kehilangan napas.
Keluarga buruh menyisihkan uang makan demi membeli rokok yang dipasarkan sebagai lambang kedewasaan, keberanian, bahkan kejantanan.
Racun dikemas menjadi tradisi.
Keserakahan disamarkan menjadi kemakmuran.
Dan orang yang paling banyak mengambil keuntungan justru dipuja sebagai penyelamat.
Darman memperhatikan semua itu dengan kegelisahan yang tak mampu ia jelaskan kepada siapa pun.
Ia mulai memahami bahwa dunia tidak selalu memberikan penghargaan kepada orang yang paling baik.
Kadang dunia justru mengangkat orang yang paling pandai menyembunyikan kejahatannya.
“Manusia sering kali tidak menyembah kebenaran. Mereka menyembah kenyamanan yang membuat mereka tidak perlu merasa bersalah.”
PART III
Singkong yang Jatuh ke Tanah
Sampai suatu sore di musim paceklik.
Tanah mengeras.
Sumur-sumur mulai menyusut.
Dan perut manusia terdengar lebih jujur daripada doa-doa yang dipanjatkan di rumah ibadah.
Sore itu, Darman melewati kebun singkong milik seorang pemuka agama terpandang di desa.
Di sanalah ia melihat seorang anak kecil tertangkap mencuri.
Tubuh anak itu kurus, lebih kecil daripada karung goni yang biasa digunakan buruh untuk mengangkut hasil panen.
Kakinya berlepotan lumpur.
Rambutnya kusut.
Perutnya menggelembung kempis, seperti tubuh yang terlalu lama bernegosiasi dengan kelaparan.
Di tangannya, hanya ada sebatang singkong.
Bukan sekeranjang.
Bukan satu karung.
Hanya sebatang.
Namun bagi anak itu, mungkin itulah satu-satunya kesempatan untuk melewati malam tanpa tidur ditemani rasa lapar.
Sang pemuka agama berdiri di hadapannya.
Orang yang suaranya paling nyaring ketika memimpin doa.
Orang yang khotbahnya paling panjang.
Orang yang paling fasih berbicara tentang dosa, pahala, dan kemurahan hati.
Tangannya melayang.
Plak!
Tamparan itu mendarat keras di pipi si anak.
Darman terdiam.
Anak itu tidak menangis karena pipinya perih.
Ia menangis karena singkong yang digenggamnya terlepas, jatuh ke tanah kotor, dan tak lagi bisa dimakan.
Ada tangisan yang lahir dari rasa sakit.
Ada pula tangisan yang lahir karena manusia baru saja kehilangan harapan terakhirnya.
Dan sore itu, Darman menyaksikan keduanya bertemu dalam tubuh seorang anak kecil.
Sang pemuka agama kemudian membersihkan tangannya di bejana penyucian.
Dengan tenang.
Seolah tidak ada yang baru saja terjadi.
Seolah tangan yang digunakan untuk menampar orang lapar dapat kembali suci hanya dengan air.
Setelah itu, ia berjalan menuju mimbar.
Ritual harus dimulai tepat waktu.
Darman berdiri mematung.
Di hadapannya, seorang anak dihukum karena mengambil makanan.
Di belakangnya, rumah ibadah bersiap memuji Tuhan yang katanya Maha Pengasih.
Untuk pertama kalinya, Darman merasakan sesuatu yang patah di dalam dirinya.
Bukan imannya.
Belum.
Melainkan keyakinannya bahwa orang-orang yang berbicara paling banyak tentang Tuhan pasti memiliki hati yang paling dekat dengan kemanusiaan.
PART IV
Kebohongan yang Dibenarkan
Keesokan harinya, desas-desus menyebar lebih cepat daripada wabah.
Pasar desa gempar.
Namun bukan karena rasa iba kepada anak kecil itu.
Melainkan karena cerita yang telah berubah bentuk setelah berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya.
Seseorang berkata anak itu bukan sekadar pencuri.
Yang lain menambahkan bahwa ia bagian dari komplotan pencuri gaib.
Ada yang mengaku melihat jimat di dekat rumahnya.
Ada pula yang bersumpah bahwa keluarganya akan menerima kualat adat.
Dalam waktu singkat, seorang anak yang mencuri singkong karena lapar telah berubah menjadi ancaman mistis bagi seluruh kampung.
Tak seorang pun datang untuk bertanya langsung.
Tak seorang pun merasa perlu memeriksa kebenaran.
Mereka hanya membutuhkan cerita yang bisa membuat mereka merasa benar.
Masyarakat begitu mudah menelan kabar burung, terutama jika kabar itu memberi mereka kesempatan untuk menghakimi seseorang.
Darman memperhatikan bagaimana kebohongan dapat tumbuh menjadi kebenaran ketika diulang oleh cukup banyak orang.
Ia melihat bahwa banyak manusia tidak mencari fakta.
Mereka mencari pembenaran.
Sebab kebenaran terkadang menuntut keberanian untuk mengakui bahwa kita telah salah.
Sedangkan kebohongan hanya membutuhkan kerumunan.
“Kebohongan tidak selalu menang karena lebih kuat daripada kebenaran. Kadang ia menang karena manusia terlalu malas memeriksa apa yang ingin mereka percayai.”
Padahal ajaran agama mana pun yang menjunjung keadilan semestinya mengajarkan manusia untuk memeriksa kabar sebelum menjatuhkan hukuman.
Tabayyun.
Meneliti.
Mendengarkan kedua sisi.
Namun bagi sebagian warga, memeriksa kebenaran terasa terlalu merepotkan.
Jauh lebih mudah ikut mencibir.
Jauh lebih nikmat menjadi bagian dari kerumunan yang merasa suci daripada berdiri sendirian membela seseorang yang telah dituduh.
Darman mulai memahami satu hal yang mengerikan:
Manusia bisa mengubah kekejaman menjadi kebajikan selama cukup banyak orang menyebutnya sebagai kewajaran.
PART V
Kelaparan untuk Manusia
Paceklik semakin parah.
Sawah menguning sebelum waktunya.
Sumur-sumur mengering.
Anak-anak mulai tidur dengan perut kosong.
Namun ketika kesulitan datang, warga desa tidak serta-merta mencari cara untuk mengelola sisa pangan, memperbaiki irigasi, atau saling membagi persediaan.
Sebaliknya, mereka berbondong-bondong membawa sesajen, ayam hitam, dan kemenyan ke bawah pohon tua di pinggir desa.
Atas petunjuk pemuka adat, mereka percaya bencana terjadi karena penguasa gaib desa sedang murka.
Makanan yang seharusnya bisa mengisi perut manusia diletakkan di hadapan akar pohon.
Ayam disembelih.
Kemenyan dibakar.
Doa-doa dilantunkan dengan wajah penuh kecemasan.
Darman berdiri agak jauh, menyaksikan semua itu dengan perasaan yang sulit dibendung.
Ia melihat makanan utuh dibiarkan membusuk.
Ia melihat orang-orang memohon kepada sesuatu yang tidak dapat mereka pastikan keberadaannya.
Sementara di rumah-rumah sekitar, anak-anak menangis karena lapar.
Ada sesuatu yang ganjil dalam cara manusia menghadapi penderitaan.
Mereka sanggup memberikan yang terbaik kepada sesuatu yang mereka takuti.
Namun begitu pelan ketika diminta memberikan sedikit kepada manusia yang benar-benar membutuhkan.
Darman tidak sedang menertawakan keyakinan orang lain.
Ia sedang mempertanyakan sebuah masyarakat yang menjadikan ritual sebagai pengganti tanggung jawab.
Sebuah masyarakat yang merasa telah berbuat baik hanya karena telah melakukan sesuatu yang dianggap suci, meskipun tetangganya tetap kelaparan.
“Tidak semua yang disebut pengorbanan adalah kebaikan. Terkadang manusia hanya sedang membuang tanggung jawabnya ke langit agar tidak perlu menolong orang yang berada di sampingnya.”
PART VI
Pertanyaan yang Dilarang
Di tempat ibadah, Darman akhirnya memberanikan diri bertanya kepada pengajar kerohaniannya.
Ia telah menyimpan pertanyaan itu terlalu lama.
Dan pertanyaan yang dipendam terlalu lama kadang berubah menjadi luka.
"Ustaz," katanya suatu sore, "mengapa orang lapar yang mengambil sebatang singkong dianggap pembawa sial, sementara saudagar tembakau yang menjual racun dan menimbun hasil keringat buruh dipuja sebagai tokoh adat?"
Sang pengajar menatapnya.
Darman melanjutkan.
"Mengapa kita sibuk memberi makan pohon tua dengan kemenyan, tetapi membiarkan anak yatim menahan lapar?"
Ia menarik napas.
"Dan jika Tuhan itu ada dan Maha Adil, mengapa Dia diam saja melihat kebodohan yang mengatasnamakan nama-Nya ini?"
Suasana mendadak berubah.
Beberapa orang yang berada di sekitar mereka mulai menoleh.
Sang pengajar mengerutkan dahi.
"Jangan banyak bertanya, Darman!"
"Tapi saya hanya ingin memahami—"
"Iman itu percaya tanpa syarat."
"Apakah bertanya salah?"
"Jangan gunakan akalmu untuk mempertanyakan hukum Tuhan, tradisi leluhur, dan kebaikan para dermawan desa."
Darman terdiam.
Sang pengajar mendekatkan wajahnya.
"Bertanya seperti itu adalah benih kesesatan."
Kalimat itu jatuh lebih berat daripada yang Darman bayangkan.
Bukan karena ia takut disebut sesat.
Melainkan karena ia baru saja menyadari bahwa di tempat yang seharusnya menjadi ruang pencarian kebenaran, pertanyaan justru dianggap sebagai ancaman.
Hari itu juga, sebuah stempel baru melekat di kening Darman:
Si Sesat.
PART VII
Nama yang Diberikan Kerumunan
Kabar tentang Darman menyebar.
Ia disebut telah murtad.
Dituduh ketempelan roh jahat.
Dikatakan terlalu banyak membaca buku.
Sebagian orang bahkan mengaku bahwa sejak kecil Darman memang memiliki tanda-tanda pembangkangan.
Tidak ada yang datang untuk bertanya langsung kepadanya.
Tidak ada yang ingin mendengar kegelisahannya.
Mereka telah menjatuhkan vonis, lalu mencari alasan untuk membenarkannya.
Setiap kali Darman lewat, bisik-bisik terdengar dari balik jendela.
Anak-anak dilarang bermain terlalu dekat dengannya.
Orang-orang yang dahulu menyapanya kini memalingkan muka.
Ia menjadi asing di tanah kelahirannya sendiri.
Namun yang paling menyakitkan bukanlah ketika orang lain menyebutnya sesat.
Melainkan ketika ia mulai bertanya apakah seluruh hidupnya memang hanya akan menjadi usaha sia-sia untuk menjelaskan bahwa ia tidak sedang membenci Tuhan.
Ia hanya sedang membenci ketidakadilan.
Ia tidak sedang menghina iman.
Ia hanya tidak tahan melihat iman dijadikan selimut untuk menutupi kejahatan.
Ia tidak sedang memusuhi manusia beragama.
Ia hanya kecewa kepada manusia yang menggunakan agama untuk berhenti menjadi manusia.
PART VIII
Catatan di Bawah Lampu Minyak
Malam itu, Darman duduk di dalam bilik bambu peninggalan bapaknya.
Atapnya bocor di beberapa tempat.
Angin masuk melalui celah dinding.
Lampu minyak di atas meja menyala remang-remang, seperti nyala harapan yang terlalu sering diterpa kenyataan.
Di luar, suara jangkrik bersahutan.
Di dalam, Darman membuka buku catatan lusuhnya.
Ia menulis bukan untuk menghujat Tuhan.
Jika Sang Pencipta memang ada, pikirnya, Dia tidak akan hancur hanya karena gugatan seorang buruh tani.
Ia menulis untuk menyelamatkan sesuatu yang masih tersisa dalam dirinya.
Akal sehatnya.
Rasa iba.
Keberaniannya untuk bertanya.
Dan mungkin, kemanusiaannya.
Sebab ia mulai melihat bahwa manusia dapat kehilangan kemanusiaan bukan karena tidak mengenal agama, melainkan karena terlalu sibuk membela kesucian simbol-simbol sambil mengabaikan penderitaan nyata.
Darman menunduk.
Pena di tangannya bergerak perlahan.
Lalu ia menuliskan kalimat:
"Tuhan, jika Engkau memang ada, jangan biarkan aku menemukan-Mu di tempat yang salah."
Ia berhenti sejenak.
Memandangi kalimat itu.
Kemudian menambahkan:
"Jangan biarkan aku mengira bahwa Engkau hadir dalam suara orang-orang yang menghakimi, sementara Engkau absen dari tangisan mereka yang kelaparan."
Darman menutup bukunya.
Namun pertanyaan-pertanyaan itu tidak ikut tertutup.
Mereka tetap hidup di dalam kepalanya.
Berkembang.
Mendesak.
Menunggu jawaban yang mungkin tidak akan pernah datang.
Di luar bilik, desa masih terlelap dalam keyakinannya masing-masing.
Juragan Kartawa masih kaya.
Para pemuka agama masih dihormati.
Orang-orang miskin masih bekerja.
Dan anak-anak masih belajar bahwa mencuri makanan adalah dosa yang lebih mudah dihukum daripada mencuri masa depan seluruh generasi.
Darman memadamkan lampu minyak.
Dalam kegelapan, ia berbaring tanpa benar-benar tidur.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mungkin perjalanan terberat dalam hidup manusia bukanlah menemukan Tuhan.
Melainkan menemukan keberanian untuk tetap menjadi manusia ketika dunia mengajarinya bahwa kekejaman bisa disebut suci.
Penutup Bab 1
Tubuh mendambakan makanan. Hati mendambakan kasih sayang. Jiwa mencari kedamaian. Pikiran menuntut jawaban. Namun ketika manusia terlalu sibuk mempertahankan keyakinannya, sering kali ia lupa bahwa di hadapannya ada manusia lain yang hanya ingin bertahan hidup.
Dan malam itu, di sebuah bilik bambu yang nyaris runtuh, Darman mulai memahami bahwa pertanyaan yang paling berbahaya bukanlah:
"Apakah Tuhan itu ada?"
Melainkan:
"Jika kita mengaku percaya kepada Tuhan, mengapa kita masih tega membiarkan manusia lain menderita?"



0 comments:
Posting Komentar