Get me outta here!

Tanah Lebih Jujur daripada Langit (BAB KETIGA)

Catatan Penulis / Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Ketiga. Jika Anda belum membaca awal mula kisah ini atau ingin menyegarkan ingatan tentang kejadian sebelumnya, silakan baca Bab Pertama di sini terlebih dahulu sebelum melanjutkan.

Selamat membaca!


“Ada kehilangan yang membuat manusia menangis. Ada yang membuatnya marah. Dan ada kehilangan yang perlahan mengubah cara seseorang memandang seluruh kehidupan.”


Ketika Desa Mulai Kehabisan Napas

Paceklik akhirnya berganti menjadi bencana pernapasan massal.

Debu kering dari ladang tembakau yang terbakar matahari bercampur dengan debu jalanan, beterbangan memasuki rumah-rumah warga melalui celah dinding dan jendela yang tak pernah benar-benar tertutup.

Anak-anak batuk.

Orang-orang tua sesak.

Para buruh yang setiap hari bekerja di ladang mulai mengeluhkan dada yang terasa berat, seolah ada tangan tak kasatmata yang perlahan meremas paru-paru mereka.

Namun desa itu tetap berjalan seperti biasa.

Orang-orang masih pergi ke ladang.

Pasar masih buka.

Dan di beberapa sudut kampung, para pemuka kepercayaan masih sibuk mencari penyebab gaib dari bencana yang semakin nyata.

Ada yang mengatakan leluhur sedang murka.

Ada yang menuduh warga kurang beribadah.

Ada pula yang menyarankan ritual tambahan agar penyakit tidak menyebar.

Manusia memang memiliki kecenderungan aneh: ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak mampu mereka kendalikan, mereka sering kali menciptakan penjelasan yang membuat mereka merasa masih memiliki kendali.

Mereka mencari kambing hitam.

Mencari dosa.

Mencari kutukan.

Apa saja, selama tidak perlu mengakui bahwa mungkin ada kelalaian manusia yang harus dipertanggungjawabkan.

Di bilik bambu yang semakin pengap, ibu Darman sudah tidak sanggup lagi berdiri.

Tubuhnya terbaring di atas balai-balai.

Napasnya pendek-pendek.

Setiap tarikan udara terdengar seperti kain kasar yang disobek perlahan.

Darman duduk di sampingnya, memegang tangan yang dahulu begitu cekatan melinting tembakau.

Kini jemari itu hanya bergerak sedikit ketika disentuh.

"Ibu haus?"

Perempuan itu mengangguk.

Darman mengambil cangkir.

Membantu ibunya minum seteguk demi seteguk.

Air sederhana.

Namun bagi orang yang sedang sekarat, bahkan seteguk air dapat terasa seperti pemberian terbesar yang pernah diterima tubuh.

Darman memandangi wajah ibunya.

Wajah yang mulai kehilangan warna.

Wajah yang telah menghabiskan puluhan tahun mengabdi kepada pekerjaan yang tidak pernah memberinya cukup untuk hidup layak.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut.

Bukan takut kepada neraka.

Bukan takut kepada kutukan.

Melainkan takut kehilangan seseorang yang selama ini menjadi alasan mengapa ia masih merasa memiliki rumah.

“Masa kecil ingin pemulihan. Hati ingin cinta. Tubuh ingin istirahat. Namun ada manusia yang menghabiskan seluruh hidupnya memenuhi kebutuhan orang lain, sampai lupa bahwa dirinya sendiri juga pantas diselamatkan.”

Kabar Duka dari Rumah yang Terlalu Sunyi

Sore itu, Darman sedang mencari kayu bakar ketika seorang anak kecil berlari melewati halaman rumahnya.

"Darman!"

Anak itu berhenti dengan napas tersengal.

"Ada apa?"

"Anak yang dulu mencuri singkong..."

Darman menatapnya.

"Kenapa?"

Anak itu menelan ludah.

"Sudah meninggal."

Darman tidak langsung memahami kalimat itu.

Bukan karena ia tidak mengerti arti kematian.

Melainkan karena sebagian dirinya masih berharap dunia tidak akan benar-benar sekejam itu.

"Di mana?"

"Di rumahnya."

Anak itu menunduk.

"Katanya dari tadi pagi tidak bangun."

Kayu bakar terlepas dari tangan Darman.

Beberapa batang jatuh ke tanah.

Ia tidak memungutnya.

Ia hanya berdiri, memandang jalan setapak yang dipenuhi debu.

Anak kecil itu.

Anak yang pernah ia lihat menggenggam sebatang singkong dengan kedua tangan gemetar.

Anak yang menangis bukan karena pipinya ditampar, melainkan karena makanan terakhirnya jatuh ke tanah.

Anak yang kemudian dijadikan bahan gunjingan.

Dituduh membawa kesialan.

Dijauhkan oleh masyarakat yang merasa dirinya lebih suci.

Kini anak itu telah pergi.

Bukan karena kutukan.

Bukan karena roh jahat.

Bukan karena leluhur murka.

Melainkan karena perutnya kosong berhari-hari dan tubuhnya tidak sanggup lagi melawan penyakit yang dibiarkan berkembang.

Darman berjalan menuju rumah anak itu.

Langkahnya berat.

Di sepanjang jalan, ia melihat beberapa warga berdiri bergerombol.

Mereka berbicara dengan suara rendah.

Sebagian tampak prihatin.

Sebagian lainnya hanya ingin mengetahui kabar terbaru.

Kematian seseorang pun rupanya bisa menjadi tontonan.

Sesampainya di rumah korban, Darman melihat tubuh kecil itu telah dibungkus kain lusuh.

Kain yang terlalu besar untuk tubuh sekecil itu.

Di sampingnya, seorang perempuan tua menangis tanpa suara.

Mungkin ibunya.

Mungkin neneknya.

Mungkin satu-satunya orang yang masih memeluknya ketika seluruh desa memilih menjauh.

Darman berdiri di ambang pintu.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena debu.

Melainkan karena kesadaran bahwa anak itu sebenarnya tidak harus mati.

Ia bisa saja hidup.

Jika seseorang memberinya makanan.

Jika seseorang mengulurkan tangan.

Jika seseorang memilih menolong daripada menghakimi.

Namun tidak ada yang melakukannya.

Dan sekarang, semua orang akan pulang membawa cerita tentang kematian.

Bukan tanggung jawab.

Kehendak Siapa?

Pemuka agama yang dahulu menampar anak itu datang beberapa saat kemudian.

Ia mengenakan pakaian putih bersih.

Wajahnya tenang.

Suaranya lembut.

Seolah kematian yang berada di hadapannya merupakan bagian dari susunan acara yang sudah ia hafal.

Ia berdiri di depan rumah korban, lalu berkata kepada kerumunan:

"Ini sudah kehendak-Nya. Ujian bagi kita semua agar semakin bertakwa."

Beberapa warga mengangguk.

Sebagian mengucapkan amin.

Darman yang berdiri di dekat pintu mengangkat wajahnya.

"Kehendak siapa?"

Suaranya tidak keras.

Namun cukup untuk membuat percakapan di sekitar mereka berhenti.

Pemuka agama itu menoleh.

Darman melangkah maju.

"Anak ini mati karena perutnya kosong."

Tidak ada yang bergerak.

"Dia mati karena tangannya ditampar ketika mencari makan. Dia mati karena tidak ada seorang pun yang merasa perlu memberinya pertolongan."

Pemuka agama itu mengerutkan dahi.

"Jangan lancang, Darman. Nyawa itu di tangan Tuhan."

Darman memandang tubuh kecil yang terbungkus kain.

Kemudian kembali menatap lelaki di hadapannya.

"Kalau begitu, mengapa kita menggunakan nama Tuhan untuk mencuci tangan dari kematian yang mungkin bisa kita cegah?"

Kerumunan mulai gelisah.

"Jaga ucapanmu!"

"Apakah saya salah?"

"Kematian adalah takdir!"

"Dan apakah takdir mengharuskan kita menampar orang lapar?"

Tidak ada jawaban.

Darman melanjutkan, kali ini lebih pelan.

"Ketika dia mencuri singkong, kalian menyebutnya pendosa. Ketika dia kelaparan, kalian menyebutnya pembawa sial. Ketika dia mati, kalian menyebutnya ujian."

Ia mengedarkan pandangan kepada warga.

"Adakah satu pun dari kalian yang bersedia menyebutnya korban?"

Kalimat itu menggantung di udara.

Tidak seorang pun menjawab.

Sang pemuka agama akhirnya berkata:

"Jangan menghakimi kehendak Tuhan."

Darman tersenyum tipis.

Senyum yang tidak mengandung kebahagiaan.

"Saya tidak sedang menghakimi Tuhan."

Ia menatap kain yang membungkus tubuh anak itu.

"Saya sedang menghakimi manusia yang masih hidup, tetapi bertindak seolah-olah tidak punya tanggung jawab atas kematian orang lain."

“Kita sering menyebut sesuatu sebagai takdir ketika terlalu pengecut untuk mengakui bahwa ada kesalahan yang seharusnya kita pertanggungjawabkan.”

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain batuk seorang lelaki tua di belakang kerumunan.

Kemudian seseorang berbisik:

"Dia benar-benar sudah sesat."

Dan seperti biasa, kerumunan lebih cepat mengulang sebuah cap daripada memikirkan sebuah pertanyaan.

Ketika Kesedihan Tidak Lagi Memiliki Tempat

Malam tiba.

Darman pulang ke rumah dengan langkah yang tidak beraturan.

Ibunya masih terbaring.

Lampu minyak menyala kecil di sudut ruangan.

Bapaknya belum pulang dari ladang.

Darman duduk di lantai.

Ia tidak menyalakan lampu tambahan.

Tidak memasak.

Tidak membaca.

Hanya duduk.

Kematian anak kecil itu berputar-putar di kepalanya.

Wajahnya.

Tangannya.

Singkong yang jatuh.

Tamparan.

Lapar.

Batuk.

Kain kafan.

Semuanya seperti potongan-potongan gambar yang tidak bisa disusun menjadi sesuatu yang masuk akal.

Darman pernah berpikir bahwa kemarahan dapat mengubah dunia.

Bahwa jika seseorang cukup berani menunjukkan kebodohan, orang-orang akan tersadar.

Namun malam itu, ia mulai mengerti bahwa manusia tidak selalu berubah hanya karena diperlihatkan penderitaannya.

Sebagian justru semakin keras mempertahankan keyakinan.

Sebab mengakui kesalahan berarti harus mengakui bahwa selama ini mereka mungkin telah ikut membiarkan seseorang mati.

Dan tidak semua orang memiliki keberanian untuk hidup bersama rasa bersalahnya sendiri.

Ibunya bergerak pelan.

"Darman..."

"Iya, Bu?"

"Kenapa belum tidur?"

"Belum ngantuk."

Perempuan itu menatapnya.

Meskipun tubuhnya lemah, ia masih mampu mengenali kesedihan di wajah anaknya.

"Jangan terlalu banyak berpikir."

Darman tersenyum kecil.

"Kalau tidak berpikir, Bu, nanti siapa yang akan bertanya?"

Ibunya tidak menjawab.

Mungkin tidak memahami.

Mungkin terlalu lelah.

Atau mungkin ia memahami lebih banyak daripada yang Darman kira, tetapi tidak memiliki tenaga untuk mengatakannya.

Darman berbaring di dekat balai-balai.

Ia mendengar napas ibunya.

Pendek.

Berat.

Terputus-putus.

Dan dalam kesunyian itu, ia menyadari sesuatu yang belum pernah ia akui sebelumnya:

Ia tidak hanya marah kepada Tuhan.

Ia juga takut kepada kehidupan.

Takut bahwa semua yang dicintainya akan direnggut satu per satu, sementara dirinya tidak mampu melakukan apa-apa.

Bukit dan Langit yang Tidak Menjawab

Malam semakin larut.

Darman keluar dari rumah.

Ia berjalan menuju bukit tertinggi di pinggir desa.

Tempat yang dahulu sering ia datangi ketika masih kecil, ketika dunia belum terasa sekejam sekarang.

Angin malam menyapu wajahnya.

Tanah kering menempel di telapak kakinya.

Dari atas bukit, rumah-rumah warga terlihat seperti titik-titik kecil yang tertidur di bawah langit luas.

Ia duduk.

Lalu berlutut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak membaca doa hafalan.

Tidak mengulang kalimat yang diajarkan sejak kecil.

Tidak meminta rezeki.

Tidak meminta ampun.

Tidak meminta surga.

Ia hanya berbicara.

Kepada langit.

Kepada kesunyian.

Kepada sesuatu yang bahkan tidak mampu ia pastikan keberadaannya.

"Tuhan..."

Suaranya bergetar.

"Jika Engkau memang ada..."

Ia berhenti.

Menelan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokan.

"Bukan sebagai nama yang dipakai para penipu. Bukan sebagai alasan atas penindasan Kartawa. Bukan sebagai dongeng yang digunakan orang-orang untuk menakut-nakuti sesamanya."

Darman menatap langit.

"Jika Engkau memang Sang Pencipta..."

Ia mengambil sehelai daun kering dari tanah.

"Berikan satu saja tanda."

Daun itu diletakkan di hadapannya.

"Kecil saja."

Ia tersenyum getir.

"Gerakkan daun ini."

Angin berembus.

Daun itu bergeser sedikit.

Darman menatapnya.

Kemudian tertawa pelan.

"Bukan itu."

Ia menunduk.

"Berikan kehangatan pada dada ibuku malam ini."

Suara Darman semakin lirih.

"Atau setidaknya, berikan aku alasan untuk percaya bahwa semua penderitaan ini tidak sia-sia."

Ia menunggu.

Satu menit.

Lima menit.

Setengah jam.

Satu jam.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada jawaban yang turun dari langit untuk menjelaskan mengapa seorang anak harus mati kelaparan, mengapa ibunya sekarat, atau mengapa manusia begitu mudah menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan kekejaman.

Hanya angin.

Hanya suara jangkrik.

Hanya langit yang membentang tanpa memberikan kepastian.

Darman menunduk.

Untuk beberapa saat, ia merasa seluruh hidupnya sedang menunggu sesuatu yang mungkin tidak pernah datang.

Dan menunggu sesuatu yang tidak pasti adalah salah satu bentuk kesepian paling melelahkan yang dapat dialami manusia.

“Kesendirian ingin kehadiran. Hati ingin cinta. Jiwa ingin kedamaian. Namun ada malam ketika manusia hanya ditemani pertanyaan-pertanyaannya sendiri.”

Kedamaian yang Terasa Seperti Kehilangan

Darman duduk lebih lama.

Ia tidak lagi menangis.

Tidak lagi marah.

Bahkan tidak lagi meminta.

Perasaan yang tersisa di dalam dirinya bukanlah kebencian.

Melainkan kehampaan.

Kehampaan yang aneh.

Seperti sebuah ruangan yang selama ini dipenuhi suara, lalu tiba-tiba seluruh penghuninya pergi.

Ia teringat masa kecilnya.

Lantunan doa di telinga kanan.

Ancaman neraka di telinga kiri.

Nasihat tentang kesabaran.

Janji tentang keadilan.

Cerita tentang Tuhan yang Maha Pengasih.

Semua itu pernah terasa kokoh.

Pernah menjadi tempatnya bersandar.

Namun malam ini, ketika ia membutuhkan jawaban paling sederhana—mengapa orang yang tidak bersalah harus menderita—tidak ada satu pun yang mampu memberinya kepastian.

Darman mulai memahami bahwa mungkin selama ini ia tidak hanya percaya kepada Tuhan.

Ia juga percaya kepada gagasan bahwa dunia memiliki susunan moral yang pada akhirnya akan memperbaiki segala sesuatu.

Bahwa penderitaan akan dibalas.

Bahwa kejahatan akan dihukum.

Bahwa orang baik tidak akan benar-benar kalah.

Namun kenyataan tidak selalu bekerja seperti cerita yang diajarkan manusia kepada anak-anaknya.

Orang baik bisa mati tanpa sempat menikmati hasil kebaikannya.

Orang jahat bisa hidup panjang dengan rumah besar dan nama yang harum.

Dan dunia tidak selalu menyediakan penjelasan yang memuaskan bagi mereka yang terluka.

Darman memandang kedua tangannya.

Tangan yang belum mampu menyelamatkan anak kecil itu.

Tangan yang tidak memiliki uang untuk menyembuhkan ibunya.

Tangan yang hanya bisa menulis pertanyaan di buku lusuh.

Ia tertawa kecil.

Bukan karena telah menemukan jawaban.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia berhenti memaksa dunia memberikan jawaban yang mungkin memang tidak dimilikinya.

Dunia yang Tidak Menjanjikan Keadilan

Fajar mulai mendekat ketika Darman berdiri.

Langit masih gelap.

Namun di ujung timur, warna kelabu perlahan muncul.

Ia memandang desa di bawah bukit.

Rumah-rumah.

Ladang.

Jalanan.

Tempat-tempat yang selama ini menjadi saksi penderitaan manusia.

Tidak ada tangan gaib yang terlihat mengatur siapa yang kaya dan siapa yang miskin.

Tidak ada cahaya yang turun untuk menghentikan keserakahan.

Tidak ada suara yang memaksa manusia berbuat baik.

Yang ada hanyalah manusia.

Dengan pilihan-pilihannya.

Dengan keserakahannya.

Dengan ketakutannya.

Dengan kemampuannya untuk menolong atau menyakiti.

Darman belum mengetahui apakah kesimpulannya benar.

Ia juga belum mampu memastikan bahwa langit benar-benar kosong.

Namun satu hal mulai ia pahami:

Jika manusia ingin menyelamatkan manusia lain, mereka tidak bisa terus menunggu pertolongan yang tidak pernah mereka pastikan akan datang.

Jika ada anak kelaparan, seseorang harus memberinya makan.

Jika ada orang sakit, seseorang harus mencarikan obat.

Jika ada ketidakadilan, seseorang harus berani menghadapinya.

Bukan karena takut neraka.

Bukan karena mengharap surga.

Bukan pula demi mendapatkan pujian.

Melainkan karena penderitaan manusia adalah sesuatu yang nyata.

Dan kenyataan tidak seharusnya menunggu pembenaran dari langit.

Darman menuruni bukit.

Langkahnya tidak menjadi lebih ringan.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Ia tidak lagi berjalan sambil menunggu jawaban.

Ia berjalan sambil membawa pertanyaan itu bersamanya.


Penutup Bab 3

Ketika Darman tiba di rumah, matahari belum sepenuhnya terbit.

Ibunya masih terbaring.

Napasnya terdengar lebih lemah daripada malam sebelumnya.

Darman duduk di sampingnya.

Menggenggam tangannya.

"Ibu..."

Perempuan itu membuka mata.

"Darman sudah pulang?"

"Iya, Bu."

"Sudah makan?"

Darman menggeleng.

Ibunya berusaha tersenyum.

"Jangan lupa makan."

Darman menunduk.

Ada sesuatu yang menusuk dadanya.

Bahkan ketika tubuhnya sendiri hampir menyerah, ibunya masih memikirkan apakah anaknya sudah makan.

Begitulah cinta kadang bekerja.

Ia tidak selalu hadir dalam kata-kata indah.

Tidak selalu berupa pelukan panjang.

Kadang ia hanya muncul sebagai pertanyaan sederhana dari seseorang yang sedang menahan sakit:

"Sudah makan?"

Darman mencium tangan ibunya.

Lalu duduk diam di samping balai-balai.

Di luar, desa mulai terbangun.

Orang-orang kembali bekerja.

Pengeras suara kembali berbunyi.

Dan dunia, dengan segala ketidakadilannya, terus berjalan.

“Masa lalu ingin penyelesaian. Luka ingin pemulihan. Pikiran ingin jawaban. Namun hidup tidak selalu memberi kita kesempatan untuk menyelesaikan semuanya. Kadang ia hanya memberi waktu yang cukup untuk memilih: menjadi lebih pahit, atau menjadi lebih manusia.”

Darman menatap wajah ibunya.

Ia belum tahu apa yang akan terjadi setelah hari itu.

ada pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan:

Jika seluruh dunia tidak mampu menyelamatkan orang-orang yang kita cintai, kepada siapa kita harus meminta pertanggungjawaban?

0 comments:

Posting Komentar