Get me outta here!

Tanah Lebih Jujur daripada Langit (BAB KELIMA) - ENDING

Catatan Penulis / Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Kelima (Terakhir) Jika Anda belum membaca awal mula kisah ini atau ingin menyegarkan ingatan tentang kejadian sebelumnya, silakan baca Bab Pertama di sini terlebih dahulu sebelum melanjutkan.

Selamat membaca!

Ada pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan seseorang yang cukup berani untuk membawanya sampai mati.

Tiga tahun telah berlalu sejak malam ketika dua gundukan tanah dirapikan di belakang rumah bambu itu.

Desa masih sama.

Dan justru karena itu, Darman merasa ada sesuatu yang salah.

Juragan Kartawa masih memiliki kebun-kebun tembakau.

Rumahnya semakin besar.

Pagar kayunya telah diganti tembok.

Mobil datang dan pergi hampir setiap sore.

Di depan rumah ibadah, namanya masih disebut sebagai orang dermawan.

Orang-orang masih memujinya.

Penceramah yang dahulu begitu populer telah berganti.

Wajahnya berbeda.

Jaketnya berbeda.

Cara bicaranya berbeda.

Tetapi isinya sama.

Masih ada orang-orang yang duduk bersorak.

Masih ada orang-orang yang percaya.

Masih ada orang-orang yang lebih menyukai suara yang meyakinkan daripada kebenaran yang menyakitkan.

Dan masih ada orang-orang miskin yang menunggu bantuan dari mereka yang hidup berlebihan.

Hanya satu hal yang berubah.

Darman.

Atau setidaknya—

begitulah yang dikatakan orang-orang.

Memandang Kekosongan

Bilik bambu itu sekarang lebih terawat.

Dinding yang dahulu bocor ditambal.

Halaman depannya dipenuhi tanaman obat.

Beberapa anak desa sering datang mengambil sayuran.

Kadang ada beras.

Kadang obat.

Kadang hanya secangkir teh.

Tidak ada yang tahu dari mana Darman mendapatkan semuanya.

Ia tidak pernah meminta bayaran.

Tidak pernah pula menerima pujian.

Jika seseorang mengucapkan terima kasih, ia hanya menjawab:

“Lain kali, kalau melihat orang lain membutuhkan, lakukan hal yang sama.”

Itu saja.

Darman semakin jarang berbicara.

Ia lebih sering duduk di teras.

Memandang hujan.

Memandang tanah.

Atau menatap dua gundukan tanah di belakang rumah.

Makam ayah dan ibunya.

Orang-orang desa mulai membuat cerita sendiri.

Ada yang mengatakan Darman sudah tidak percaya Tuhan.

Ada yang mengatakan ia justru semakin dekat dengan Tuhan.

Ada yang mengatakan ia menemukan ilmu tertentu di kota.

Ada yang mengatakan ia pernah bertemu seorang wali.

Ada pula yang mengatakan Darman sudah gila sejak kematian kedua orang tuanya.

Tidak ada yang tahu.

Dan Darman tidak pernah menjelaskan.

Sebuah Tulisan Sebuah Cerita

Suatu sore, seorang pemuda datang.

Namanya Raka.

Ia anak dari cendekiawan tua yang dulu sering berbicara dengan Darman.

Ayahnya telah meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Sebelum meninggal, lelaki tua itu pernah berkata kepadanya:

“Kalau suatu hari kau benar-benar ingin tahu siapa Darman, jangan dengarkan cerita orang-orang.”

“Lalu?”

“Baca tulisannya.”

Raka tidak pernah mengerti maksudnya.

Sampai sore itu.

Ia menemukan Darman duduk di teras.

Hujan baru saja turun.

Di atas meja kayu terdapat sebuah buku tua.

Sampulnya cokelat.

Tanpa judul.

Tanpa nama.

Hanya sebuah bekas noda air di sudutnya.

Raka duduk.

“Boleh saya bertanya sesuatu?”

Darman mengangguk.

“Orang-orang masih membicarakan Kang Darman.”

“Biarkan.”

“Mereka bilang Kang Darman tidak percaya Tuhan.”

Darman diam.

“Sebagian bilang Kang Darman justru sangat percaya Tuhan.”

Darman tetap diam.

“Yang mana yang benar?”

Darman tersenyum.

Tipis sekali.

“Kalau aku menjawabnya, apa yang akan kau lakukan?”

Raka mengerutkan kening.

“Entahlah.”

“Itulah masalahnya.”

Darman membuka buku tua itu.

“Manusia terlalu sering meminta jawaban bukan karena ingin mengetahui kebenaran.”

Ia menatap Raka.

“Kadang mereka hanya ingin menemukan alasan untuk membenarkan apa yang sudah mereka percaya.”

Raka terdiam.

Kemudian matanya tertuju pada buku itu.

“Boleh saya membacanya?”

Darman tidak menjawab.

Ia hanya mendorong buku tersebut ke arah Raka.

Apakah Langit Berbohong?

Halaman pertama berisi tulisan tangan yang sangat tua.

Tanah Lebih Jujur daripada Langit.

Raka membaca perlahan.

Halaman berikutnya menceritakan tentang ayahnya.

Tentang ibunya.

Tentang Kartawa.

Tentang anak kecil yang mencuri singkong.

Tentang pemuka agama.

Tentang paceklik.

Tentang pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah dijawab.

Raka terus membaca.

Beberapa kali ia berhenti.

Beberapa kali ia menarik napas.

Dan semakin jauh ia membaca, semakin aneh perasaannya.

Tulisan itu seperti bukan sekadar catatan.

Seolah Darman sedang berbicara kepada seseorang yang duduk di depannya.

Pada salah satu halaman tertulis:

Jika suatu hari ada seseorang membaca tulisan ini, jangan tanyakan apakah aku percaya Tuhan.

Tanyakan kepadanya mengapa ia begitu membutuhkan jawaban itu.

Raka menelan ludah.

Ia membalik halaman.

Kosong.

Membalik lagi.

Kosong.

Kemudian halaman berikutnya berisi satu kalimat.

Malam ini ibu bertanya apakah aku sudah makan.

Raka berhenti.

Ia ingat cerita Darman tentang ibunya.

Ia membalik halaman berikutnya.

Aku menjawab sudah.

Kemudian:

Padahal aku berbohong.

Raka merinding.

Ia terus membaca.

Barangkali seorang ibu memang tidak pernah benar-benar bertanya apakah anaknya sudah makan.

Ia hanya ingin memastikan bahwa anaknya masih hidup.

Raka menutup buku sebentar.

Kemudian menatap Darman.

“Kang…”

Darman tidak ada.

Raka menoleh ke kanan.

Ke kiri.

Teras itu kosong.

Pintu rumah tertutup.

“Darman?”

Tidak ada jawaban.

Ia berdiri.

Membuka pintu.

Kosong.

Tidak ada kamar.

Tidak ada dapur.

Tidak ada suara langkah.

Hanya rumah tua dengan lampu minyak yang belum dinyalakan.

Raka keluar lagi.

Hujan masih turun

0 comments:

Posting Komentar