Kita selalu punya alasan untuk menyalahkan—pemerintah, cuaca, atau nasib. Tapi tidak pernah cukup berani untuk menatap sumber masalah yang paling dekat: diri kita sendiri. Air yang masuk ke rumah itu bukan sekadar banjir. Ia adalah kiriman balik dari apa yang kita buang tanpa pikir panjang. Sungai dan laut tidak pernah benar-benar menolak—mereka hanya menunggu waktu untuk mengembalikan semuanya.
Ironisnya, sebagai suku Lampung, kita pernah diajarkan bahwa way yaitu sungai atau air adalah kehidupan. Sungai bukan tempat sampah, melainkan tempat suci, tempat kita bergantung, bahkan tempat dari mana kita minum. Tapi lihat sekarang—kita mencemarinya dengan tangan sendiri, lalu marah ketika air yang sama datang kembali tanpa ampun. Kita lupa, atau mungkin sengaja lupa, bahwa kehancuran sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang terus kita anggap sepele. Jadi sebelum menunjuk ke luar, mungkin ada baiknya kita belajar malu pada diri sendiri. Karena perubahan tidak pernah lahir dari teriakan, tapi dari kesadaran yang pelan-pelan diperbaiki. Dan jika kita masih menganggap sungai sebagai sumber kehidupan, maka seharusnya kita juga tahu bagaimana cara menghormatinya.
Dalam riwayat yang disebutkan dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada satu hari pun berlalu melainkan laut meminta izin kepada Rabb-nya untuk menenggelamkan manusia. Mungkin bukan karena laut membenci kita, tetapi karena ia terlalu lama menyaksikan apa yang kita lakukan.
Hutan terbakar—dan kita menyebutnya bencana. Padahal api itu sering kali lahir dari tangan kita sendiri. Dari keserakahan yang dibungkus alasan: membuka lahan, mencari penghidupan, atau sekadar memperluas kepemilikan. Api itu tidak pernah benar-benar liar, ia hanya mengikuti jejak manusia. Lalu kita bertanya, mengapa bumi terasa semakin marah?
Gajah mati—dan kita pura-pura bertanya, karena apa? Bukan karena gadingnya. Tapi karena manusia yang tidak pernah merasa cukup. Diracun, dijerat, ditembak—semuanya demi sesuatu yang bahkan tidak dibutuhkan untuk bertahan hidup. Ironisnya, kita membuat hukum yang panjang untuk melindungi sesama manusia, tapi begitu ringan ketika kehidupan lain dirampas tanpa alasan yang layak. Mungkin benar, bukan bumi yang semakin keras. Bukan laut yang semakin ganas. Tapi kita yang semakin kehilangan rasa. Dan jika suatu hari alam benar-benar berhenti bersabar, barangkali itu bukan hukuman—melainkan jawaban atas apa yang terus kita lakukan, berulang-ulang, tanpa pernah benar-benar merasa bersalah.
Apa salah mereka, sampai harus kehilangan rumah yang bahkan tidak pernah mereka tinggalkan? Hutan itu bukan sekadar pepohonan. Ia adalah ruang hidup—tempat lahir, tempat belajar bertahan, tempat seorang induk mengajarkan anaknya mengenal dunia. Di sanalah orangutan tumbuh, menggantungkan hidup pada apa yang alam sediakan tanpa pernah meminta lebih. Lalu manusia datang. Bukan sekadar lewat, tapi menetap. Menebang, membakar, membuka lahan atas nama kebutuhan dan kemajuan. Pohon-pohon yang dulu menjadi tempat berlindung berubah menjadi barisan tanaman yang seragam. Sunyi yang dulu alami berubah menjadi ruang yang dipenuhi kepentingan.
Ketika hutan itu hilang, orangutan tidak punya banyak pilihan. Mereka tidak memahami batas kebun, tidak mengerti kepemilikan, tidak tahu bahwa tanah yang mereka pijak kini disebut “milik manusia”. Yang mereka tahu hanya satu: mereka lapar. Dan kelaparan tidak pernah bisa ditunda terlalu lama. Seekor induk mungkin bisa menahan perih di perutnya. Tapi tidak dengan anaknya. Tidak ada ibu—baik manusia maupun bukan—yang rela melihat anaknya menangis karena lapar. Maka ia turun, mencari apa pun yang bisa dimakan, meski harus mendekat ke tempat yang asing baginya. Namun yang ia temukan bukanlah makanan. Ia menemukan manusia. Sekumpulan manusia yang merasa terganggu, merasa memiliki, merasa berhak menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang tidak. Dalam hitungan waktu yang singkat, rasa takut berubah menjadi kekerasan. Yang datang untuk bertahan hidup, justru diperlakukan seolah ancaman.
Kita sering bertanya, mengapa mereka masuk ke wilayah kita. Tapi jarang bertanya, sejak kapan itu benar-benar wilayah kita? Kita membuat hukum untuk melindungi sesama manusia, berbicara tentang hak dan keadilan. Tapi ketika makhluk lain kehilangan segalanya karena ulah kita, suara itu tiba-tiba menjadi pelan. Seolah kehidupan mereka tidak pernah cukup penting untuk dibela. Dan di situlah letak ironi terbesar kita. Kita menyebut diri sebagai makhluk paling berakal, tapi sering kali gagal menggunakan akal itu untuk menahan diri. Kita merasa paling beradab, tapi terlalu mudah membenarkan kekerasan selama itu menguntungkan kita.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti berpura-pura.
Bahwa pada akhirnya, manusia memang berada di puncak rantai makanan.
Kita memiliki mata yang menghadap ke depan, kita memiliki gigi dan taring—dan kita tahu cara menggunakannya.
Kita adalah predator.
Bedanya, kita tidak hanya memangsa untuk bertahan hidup—kita juga merusak, menguasai, dan menghancurkan, bahkan ketika tidak benar-benar perlu. Dan mungkin yang paling menyedihkan bukanlah itu. Tapi kenyataan bahwa kita menyadarinya… dan tetap melakukannya.







Oakley Titanium Sunglasses - Titsanium Art
BalasHapusOakley Titsanium Sunglasses for Men. Titsanium titanium dab tool Titsanium titanium curling wand Sunglasses have been designed to titanium easy flux 125 amp welder be used by men titanium max as well iron titanium as women.
Hubs combines its immediate quoting device and a global community of CNC machining centers to fabricate customized parts for applications starting from fast prototyping to serial manufacturing. You can Electric Can Openers use Hubs’ digital manufacturing platform to source prime quality, advanced metallic and plastic parts efficiently and reliably. An Okuma product is where grasp craftsmanship meets cutting-edge technology.
BalasHapus