Get me outta here!

Hidup Yang Palsu

Mungkin banyak orang langsung panas kalau membahas tentang bahayanya “utang”. Ustadz boleh ceramah apapun asal jangan ceramah utang! Utang memang diperbolehkan dalam agama tetapi ditekankan untuk dihindari, dan juga bukan berarti untuk dipelihara seperti hobi. Bahkan dalam banyak riwayat, utang dipandang sebagai beban yang serius. Nabi saja pernah menaruh perhatian besar terhadap perkara utang sampai urusan mensholatkan jenazah yang masih memiliki utang pun pernah diriwayatkan. Tapi manusia modern punya kemampuan luar biasa: mengubah peringatan menjadi pembenaran.

Ilustrasi peringatan darurat kepada warga sipil

Yang lebih lucu lagi, utang hari ini bukan lagi soal bertahan hidup. Banyak orang berutang demi terlihat hidup. Tinggal di lingkungan menengah membuat fenomena ini terasa seperti tontonan harian. Orang yang penghasilannya bahkan belum stabil sudah sibuk membangun citra stabil. Baru pegang uang sedikit, langsung otaknya lari ke iPhone terbaru, motor baru, mobil baru, rumah dengan cicilan tiga generasi, lalu dipamerkan di media sosial seolah-olah Forbes sedang mengincar mereka untuk masuk daftar orang terkaya berikutnya.

Ilustrasi mimpi basahnya kaum pengutang

Ironisnya, yang dikejar bukan aset yang menghasilkan uang kembali, melainkan simbol validasi. Mereka tidak membeli masa depan, mereka membeli tepuk tangan. Dan tepuk tangan itu mahal—dibayar dengan cicilan, bunga, dan kebiasaan gali lubang tutup lubang yang dianggap “normal”. Di lingkungan penuh mentalitas kepiting seperti ini, orang yang mencoba hidup sederhana malah dianggap aneh. Kita yang berusaha tidak berutang demi gaya hidup justru sering dijadikan “solusi keuangan darurat” oleh mereka. Seolah-olah kita menabung bukan untuk masa depan sendiri, tapi untuk menalangi keputusan finansial orang lain yang otaknya kalah cepat dibanding nafsunya.

Ilustrasi orang sederhana dikejar orang yang mau ngutang

Ada juga fenomena yang tak kalah ajaib. Uang makan pas-pasan, kebutuhan rumah tangga belum aman, tapi memaksakan umroh dengan keyakinan bahwa nanti pasti dibukakan rezeki berlimpah. Seakan-akan Tuhan dijadikan investor yang wajib mengembalikan modal spiritual mereka. Padahal agama mengajarkan ikhtiar dan tanggung jawab, bukan menjadikan keyakinan sebagai alat berjudi melawan kenyataan ekonomi.

Ilustrasi kita sudah tidak waras

Dan para pengutang kronis ini punya satu kesamaan: mereka selalu menghitung uang yang bahkan belum mereka pegang. Gaji minggu depan sudah habis duluan di kepala. Bonus yang belum tentu cair sudah dipakai untuk merencanakan cicilan baru. Hidup mereka seperti pertunjukan sulap gagal—menghilangkan uang yang bahkan belum muncul. Mereka terus yakin bisa gali lubang tutup lubang, sampai akhirnya yang tertutup bukan lubangnya, tapi hubungan pertemanan, keluarga, bahkan harga diri.

Orang sering takut penyakit berat seperti kanker karena merusak tubuh. Tapi utang yang tak terkendali merusak lebih banyak hal: kepercayaan, silaturahmi, ketenangan rumah tangga, bahkan rasa hormat antar manusia. Tidak sedikit keluarga pecah, sahabat menjauh, dan saudara saling benci hanya karena perkara “nanti saya bayar”. Utang itu bukan cuma angka, tapi juga ujian karakter.

Ilustrasi orang yang selalu menghitung uang yang belum mereka pegang

Pada akhirnya, utang bukan cuma soal uang yang belum dibayar. Ia adalah doa-doa yang tertahan karena hati dipenuhi kecemasan, wajah orang tua yang diam-diam malu karena anaknya lari dari tanggung jawab, dan persahabatan yang perlahan mati hanya demi angka di layar rekening. Yang lebih menakutkan, kita sering terlalu sibuk terlihat “mampu” di mata manusia sampai lupa mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan.

Bayangkan suatu hari kita meninggal dunia. Media sosial yang dulu penuh pamer itu tidak ikut masuk ke liang kubur. Motor, mobil, iPhone, dan semua barang yang dulu dipaksakan dengan utang hanya akan berpindah tangan. Tapi tagihan, janji yang diingkari, dan orang-orang yang pernah kita kecewakan bisa jadi tetap menunggu pertanggungjawabannya. Dan saat tubuh sudah terbujur kaku, kita tidak lagi punya kesempatan berkata, “Nanti saya bayar.”

Maka sebelum terlambat, berhentilah menjadikan gengsi lebih besar daripada kemampuan. Tidak apa-apa hidup sederhana, tidak apa-apa belum punya apa-apa, karena Tuhan tidak pernah malu melihat hamba yang jujur dengan keadaannya. Yang memalukan adalah hidup penuh kepalsuan demi pujian manusia, lalu meninggalkan beban untuk orang lain ketika ajal datang tanpa aba-aba.

Tempat kita beristirahat pada waktunya

Sebab di akhir hidup nanti, yang membuat kita tenang bukanlah seberapa mewah yang pernah kita miliki, melainkan seberapa sedikit hak manusia yang masih kita bawa menghadap Tuhan.

Daftar Pustaka

  1. Muslim.or.id — “Hadits-Hadits Tentang Bahaya Hutang”
  2. DetikHikmah — “Viral Gua Menuju Makkah di Tasikmalaya, Ini Kata MUI”
  3. Musik Raffa AffarKeagungan Tuhan
  4. Forbes Indonesia Rich List
  5. San Diego Hills Memorial Park
  6. Jack Sparrow dari Pirates of the Caribbean
  7. Media sosial, fenomena gaya hidup konsumtif, dan budaya validasi digital sebagai inspirasi utama penulisan narasi.

0 comments:

Posting Komentar