Get me outta here!

Tanah Lebih Jujur daripada Langit (BAB KETIGA)

Catatan Penulis / Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Ketiga. Jika Anda belum membaca awal mula kisah ini atau ingin menyegarkan ingatan tentang kejadian sebelumnya, silakan baca Bab Pertama di sini terlebih dahulu sebelum melanjutkan.

Selamat membaca!


“Ada kehilangan yang membuat manusia menangis. Ada yang membuatnya marah. Dan ada kehilangan yang perlahan mengubah cara seseorang memandang seluruh kehidupan.”


Ketika Desa Mulai Kehabisan Napas

Paceklik akhirnya berganti menjadi bencana pernapasan massal.

Debu kering dari ladang tembakau yang terbakar matahari bercampur dengan debu jalanan, beterbangan memasuki rumah-rumah warga melalui celah dinding dan jendela yang tak pernah benar-benar tertutup.

Anak-anak batuk.

Orang-orang tua sesak.

Para buruh yang setiap hari bekerja di ladang mulai mengeluhkan dada yang terasa berat, seolah ada tangan tak kasatmata yang perlahan meremas paru-paru mereka.

Namun desa itu tetap berjalan seperti biasa.

Orang-orang masih pergi ke ladang.

Pasar masih buka.

Dan di beberapa sudut kampung, para pemuka kepercayaan masih sibuk mencari penyebab gaib dari bencana yang semakin nyata.

Ada yang mengatakan leluhur sedang murka.

Ada yang menuduh warga kurang beribadah.

Ada pula yang menyarankan ritual tambahan agar penyakit tidak menyebar.

Manusia memang memiliki kecenderungan aneh: ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak mampu mereka kendalikan, mereka sering kali menciptakan penjelasan yang membuat mereka merasa masih memiliki kendali.

Mereka mencari kambing hitam.

Mencari dosa.

Mencari kutukan.

Apa saja, selama tidak perlu mengakui bahwa mungkin ada kelalaian manusia yang harus dipertanggungjawabkan.

Di bilik bambu yang semakin pengap, ibu Darman sudah tidak sanggup lagi berdiri.

Tubuhnya terbaring di atas balai-balai.

Napasnya pendek-pendek.

Setiap tarikan udara terdengar seperti kain kasar yang disobek perlahan.

Darman duduk di sampingnya, memegang tangan yang dahulu begitu cekatan melinting tembakau.

Kini jemari itu hanya bergerak sedikit ketika disentuh.

"Ibu haus?"

Perempuan itu mengangguk.

Darman mengambil cangkir.

Membantu ibunya minum seteguk demi seteguk.

Air sederhana.

Namun bagi orang yang sedang sekarat, bahkan seteguk air dapat terasa seperti pemberian terbesar yang pernah diterima tubuh.

Darman memandangi wajah ibunya.

Wajah yang mulai kehilangan warna.

Wajah yang telah menghabiskan puluhan tahun mengabdi kepada pekerjaan yang tidak pernah memberinya cukup untuk hidup layak.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut.

Bukan takut kepada neraka.

Bukan takut kepada kutukan.

Melainkan takut kehilangan seseorang yang selama ini menjadi alasan mengapa ia masih merasa memiliki rumah.

“Masa kecil ingin pemulihan. Hati ingin cinta. Tubuh ingin istirahat. Namun ada manusia yang menghabiskan seluruh hidupnya memenuhi kebutuhan orang lain, sampai lupa bahwa dirinya sendiri juga pantas diselamatkan.”

Kabar Duka dari Rumah yang Terlalu Sunyi

Sore itu, Darman sedang mencari kayu bakar ketika seorang anak kecil berlari melewati halaman rumahnya.

"Darman!"

Anak itu berhenti dengan napas tersengal.

"Ada apa?"

"Anak yang dulu mencuri singkong..."

Darman menatapnya.

"Kenapa?"

Anak itu menelan ludah.

"Sudah meninggal."

Darman tidak langsung memahami kalimat itu.

Bukan karena ia tidak mengerti arti kematian.

Melainkan karena sebagian dirinya masih berharap dunia tidak akan benar-benar sekejam itu.

"Di mana?"

"Di rumahnya."

Anak itu menunduk.

"Katanya dari tadi pagi tidak bangun."

Kayu bakar terlepas dari tangan Darman.

Beberapa batang jatuh ke tanah.

Ia tidak memungutnya.

Ia hanya berdiri, memandang jalan setapak yang dipenuhi debu.

Anak kecil itu.

Anak yang pernah ia lihat menggenggam sebatang singkong dengan kedua tangan gemetar.

Anak yang menangis bukan karena pipinya ditampar, melainkan karena makanan terakhirnya jatuh ke tanah.

Anak yang kemudian dijadikan bahan gunjingan.

Dituduh membawa kesialan.

Dijauhkan oleh masyarakat yang merasa dirinya lebih suci.

Kini anak itu telah pergi.

Bukan karena kutukan.

Bukan karena roh jahat.

Bukan karena leluhur murka.

Melainkan karena perutnya kosong berhari-hari dan tubuhnya tidak sanggup lagi melawan penyakit yang dibiarkan berkembang.

Darman berjalan menuju rumah anak itu.

Langkahnya berat.

Di sepanjang jalan, ia melihat beberapa warga berdiri bergerombol.

Mereka berbicara dengan suara rendah.

Sebagian tampak prihatin.

Sebagian lainnya hanya ingin mengetahui kabar terbaru.

Kematian seseorang pun rupanya bisa menjadi tontonan.

Sesampainya di rumah korban, Darman melihat tubuh kecil itu telah dibungkus kain lusuh.

Kain yang terlalu besar untuk tubuh sekecil itu.

Di sampingnya, seorang perempuan tua menangis tanpa suara.

Mungkin ibunya.

Mungkin neneknya.

Mungkin satu-satunya orang yang masih memeluknya ketika seluruh desa memilih menjauh.

Darman berdiri di ambang pintu.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena debu.

Melainkan karena kesadaran bahwa anak itu sebenarnya tidak harus mati.

Ia bisa saja hidup.

Jika seseorang memberinya makanan.

Jika seseorang mengulurkan tangan.

Jika seseorang memilih menolong daripada menghakimi.

Namun tidak ada yang melakukannya.

Dan sekarang, semua orang akan pulang membawa cerita tentang kematian.

Bukan tanggung jawab.

Kehendak Siapa?

Pemuka agama yang dahulu menampar anak itu datang beberapa saat kemudian.

Ia mengenakan pakaian putih bersih.

Wajahnya tenang.

Suaranya lembut.

Seolah kematian yang berada di hadapannya merupakan bagian dari susunan acara yang sudah ia hafal.

Ia berdiri di depan rumah korban, lalu berkata kepada kerumunan:

"Ini sudah kehendak-Nya. Ujian bagi kita semua agar semakin bertakwa."

Beberapa warga mengangguk.

Sebagian mengucapkan amin.

Darman yang berdiri di dekat pintu mengangkat wajahnya.

"Kehendak siapa?"

Suaranya tidak keras.

Namun cukup untuk membuat percakapan di sekitar mereka berhenti.

Pemuka agama itu menoleh.

Darman melangkah maju.

"Anak ini mati karena perutnya kosong."

Tidak ada yang bergerak.

"Dia mati karena tangannya ditampar ketika mencari makan. Dia mati karena tidak ada seorang pun yang merasa perlu memberinya pertolongan."

Pemuka agama itu mengerutkan dahi.

"Jangan lancang, Darman. Nyawa itu di tangan Tuhan."

Darman memandang tubuh kecil yang terbungkus kain.

Kemudian kembali menatap lelaki di hadapannya.

"Kalau begitu, mengapa kita menggunakan nama Tuhan untuk mencuci tangan dari kematian yang mungkin bisa kita cegah?"

Kerumunan mulai gelisah.

"Jaga ucapanmu!"

"Apakah saya salah?"

"Kematian adalah takdir!"

"Dan apakah takdir mengharuskan kita menampar orang lapar?"

Tidak ada jawaban.

Darman melanjutkan, kali ini lebih pelan.

"Ketika dia mencuri singkong, kalian menyebutnya pendosa. Ketika dia kelaparan, kalian menyebutnya pembawa sial. Ketika dia mati, kalian menyebutnya ujian."

Ia mengedarkan pandangan kepada warga.

"Adakah satu pun dari kalian yang bersedia menyebutnya korban?"

Kalimat itu menggantung di udara.

Tidak seorang pun menjawab.

Sang pemuka agama akhirnya berkata:

"Jangan menghakimi kehendak Tuhan."

Darman tersenyum tipis.

Senyum yang tidak mengandung kebahagiaan.

"Saya tidak sedang menghakimi Tuhan."

Ia menatap kain yang membungkus tubuh anak itu.

"Saya sedang menghakimi manusia yang masih hidup, tetapi bertindak seolah-olah tidak punya tanggung jawab atas kematian orang lain."

“Kita sering menyebut sesuatu sebagai takdir ketika terlalu pengecut untuk mengakui bahwa ada kesalahan yang seharusnya kita pertanggungjawabkan.”

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain batuk seorang lelaki tua di belakang kerumunan.

Kemudian seseorang berbisik:

"Dia benar-benar sudah sesat."

Dan seperti biasa, kerumunan lebih cepat mengulang sebuah cap daripada memikirkan sebuah pertanyaan.

Ketika Kesedihan Tidak Lagi Memiliki Tempat

Malam tiba.

Darman pulang ke rumah dengan langkah yang tidak beraturan.

Ibunya masih terbaring.

Lampu minyak menyala kecil di sudut ruangan.

Bapaknya belum pulang dari ladang.

Darman duduk di lantai.

Ia tidak menyalakan lampu tambahan.

Tidak memasak.

Tidak membaca.

Hanya duduk.

Kematian anak kecil itu berputar-putar di kepalanya.

Wajahnya.

Tangannya.

Singkong yang jatuh.

Tamparan.

Lapar.

Batuk.

Kain kafan.

Semuanya seperti potongan-potongan gambar yang tidak bisa disusun menjadi sesuatu yang masuk akal.

Darman pernah berpikir bahwa kemarahan dapat mengubah dunia.

Bahwa jika seseorang cukup berani menunjukkan kebodohan, orang-orang akan tersadar.

Namun malam itu, ia mulai mengerti bahwa manusia tidak selalu berubah hanya karena diperlihatkan penderitaannya.

Sebagian justru semakin keras mempertahankan keyakinan.

Sebab mengakui kesalahan berarti harus mengakui bahwa selama ini mereka mungkin telah ikut membiarkan seseorang mati.

Dan tidak semua orang memiliki keberanian untuk hidup bersama rasa bersalahnya sendiri.

Ibunya bergerak pelan.

"Darman..."

"Iya, Bu?"

"Kenapa belum tidur?"

"Belum ngantuk."

Perempuan itu menatapnya.

Meskipun tubuhnya lemah, ia masih mampu mengenali kesedihan di wajah anaknya.

"Jangan terlalu banyak berpikir."

Darman tersenyum kecil.

"Kalau tidak berpikir, Bu, nanti siapa yang akan bertanya?"

Ibunya tidak menjawab.

Mungkin tidak memahami.

Mungkin terlalu lelah.

Atau mungkin ia memahami lebih banyak daripada yang Darman kira, tetapi tidak memiliki tenaga untuk mengatakannya.

Darman berbaring di dekat balai-balai.

Ia mendengar napas ibunya.

Pendek.

Berat.

Terputus-putus.

Dan dalam kesunyian itu, ia menyadari sesuatu yang belum pernah ia akui sebelumnya:

Ia tidak hanya marah kepada Tuhan.

Ia juga takut kepada kehidupan.

Takut bahwa semua yang dicintainya akan direnggut satu per satu, sementara dirinya tidak mampu melakukan apa-apa.

Bukit dan Langit yang Tidak Menjawab

Malam semakin larut.

Darman keluar dari rumah.

Ia berjalan menuju bukit tertinggi di pinggir desa.

Tempat yang dahulu sering ia datangi ketika masih kecil, ketika dunia belum terasa sekejam sekarang.

Angin malam menyapu wajahnya.

Tanah kering menempel di telapak kakinya.

Dari atas bukit, rumah-rumah warga terlihat seperti titik-titik kecil yang tertidur di bawah langit luas.

Ia duduk.

Lalu berlutut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak membaca doa hafalan.

Tidak mengulang kalimat yang diajarkan sejak kecil.

Tidak meminta rezeki.

Tidak meminta ampun.

Tidak meminta surga.

Ia hanya berbicara.

Kepada langit.

Kepada kesunyian.

Kepada sesuatu yang bahkan tidak mampu ia pastikan keberadaannya.

"Tuhan..."

Suaranya bergetar.

"Jika Engkau memang ada..."

Ia berhenti.

Menelan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokan.

"Bukan sebagai nama yang dipakai para penipu. Bukan sebagai alasan atas penindasan Kartawa. Bukan sebagai dongeng yang digunakan orang-orang untuk menakut-nakuti sesamanya."

Darman menatap langit.

"Jika Engkau memang Sang Pencipta..."

Ia mengambil sehelai daun kering dari tanah.

"Berikan satu saja tanda."

Daun itu diletakkan di hadapannya.

"Kecil saja."

Ia tersenyum getir.

"Gerakkan daun ini."

Angin berembus.

Daun itu bergeser sedikit.

Darman menatapnya.

Kemudian tertawa pelan.

"Bukan itu."

Ia menunduk.

"Berikan kehangatan pada dada ibuku malam ini."

Suara Darman semakin lirih.

"Atau setidaknya, berikan aku alasan untuk percaya bahwa semua penderitaan ini tidak sia-sia."

Ia menunggu.

Satu menit.

Lima menit.

Setengah jam.

Satu jam.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada jawaban yang turun dari langit untuk menjelaskan mengapa seorang anak harus mati kelaparan, mengapa ibunya sekarat, atau mengapa manusia begitu mudah menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan kekejaman.

Hanya angin.

Hanya suara jangkrik.

Hanya langit yang membentang tanpa memberikan kepastian.

Darman menunduk.

Untuk beberapa saat, ia merasa seluruh hidupnya sedang menunggu sesuatu yang mungkin tidak pernah datang.

Dan menunggu sesuatu yang tidak pasti adalah salah satu bentuk kesepian paling melelahkan yang dapat dialami manusia.

“Kesendirian ingin kehadiran. Hati ingin cinta. Jiwa ingin kedamaian. Namun ada malam ketika manusia hanya ditemani pertanyaan-pertanyaannya sendiri.”

Kedamaian yang Terasa Seperti Kehilangan

Darman duduk lebih lama.

Ia tidak lagi menangis.

Tidak lagi marah.

Bahkan tidak lagi meminta.

Perasaan yang tersisa di dalam dirinya bukanlah kebencian.

Melainkan kehampaan.

Kehampaan yang aneh.

Seperti sebuah ruangan yang selama ini dipenuhi suara, lalu tiba-tiba seluruh penghuninya pergi.

Ia teringat masa kecilnya.

Lantunan doa di telinga kanan.

Ancaman neraka di telinga kiri.

Nasihat tentang kesabaran.

Janji tentang keadilan.

Cerita tentang Tuhan yang Maha Pengasih.

Semua itu pernah terasa kokoh.

Pernah menjadi tempatnya bersandar.

Namun malam ini, ketika ia membutuhkan jawaban paling sederhana—mengapa orang yang tidak bersalah harus menderita—tidak ada satu pun yang mampu memberinya kepastian.

Darman mulai memahami bahwa mungkin selama ini ia tidak hanya percaya kepada Tuhan.

Ia juga percaya kepada gagasan bahwa dunia memiliki susunan moral yang pada akhirnya akan memperbaiki segala sesuatu.

Bahwa penderitaan akan dibalas.

Bahwa kejahatan akan dihukum.

Bahwa orang baik tidak akan benar-benar kalah.

Namun kenyataan tidak selalu bekerja seperti cerita yang diajarkan manusia kepada anak-anaknya.

Orang baik bisa mati tanpa sempat menikmati hasil kebaikannya.

Orang jahat bisa hidup panjang dengan rumah besar dan nama yang harum.

Dan dunia tidak selalu menyediakan penjelasan yang memuaskan bagi mereka yang terluka.

Darman memandang kedua tangannya.

Tangan yang belum mampu menyelamatkan anak kecil itu.

Tangan yang tidak memiliki uang untuk menyembuhkan ibunya.

Tangan yang hanya bisa menulis pertanyaan di buku lusuh.

Ia tertawa kecil.

Bukan karena telah menemukan jawaban.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia berhenti memaksa dunia memberikan jawaban yang mungkin memang tidak dimilikinya.

Dunia yang Tidak Menjanjikan Keadilan

Fajar mulai mendekat ketika Darman berdiri.

Langit masih gelap.

Namun di ujung timur, warna kelabu perlahan muncul.

Ia memandang desa di bawah bukit.

Rumah-rumah.

Ladang.

Jalanan.

Tempat-tempat yang selama ini menjadi saksi penderitaan manusia.

Tidak ada tangan gaib yang terlihat mengatur siapa yang kaya dan siapa yang miskin.

Tidak ada cahaya yang turun untuk menghentikan keserakahan.

Tidak ada suara yang memaksa manusia berbuat baik.

Yang ada hanyalah manusia.

Dengan pilihan-pilihannya.

Dengan keserakahannya.

Dengan ketakutannya.

Dengan kemampuannya untuk menolong atau menyakiti.

Darman belum mengetahui apakah kesimpulannya benar.

Ia juga belum mampu memastikan bahwa langit benar-benar kosong.

Namun satu hal mulai ia pahami:

Jika manusia ingin menyelamatkan manusia lain, mereka tidak bisa terus menunggu pertolongan yang tidak pernah mereka pastikan akan datang.

Jika ada anak kelaparan, seseorang harus memberinya makan.

Jika ada orang sakit, seseorang harus mencarikan obat.

Jika ada ketidakadilan, seseorang harus berani menghadapinya.

Bukan karena takut neraka.

Bukan karena mengharap surga.

Bukan pula demi mendapatkan pujian.

Melainkan karena penderitaan manusia adalah sesuatu yang nyata.

Dan kenyataan tidak seharusnya menunggu pembenaran dari langit.

Darman menuruni bukit.

Langkahnya tidak menjadi lebih ringan.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Ia tidak lagi berjalan sambil menunggu jawaban.

Ia berjalan sambil membawa pertanyaan itu bersamanya.


Penutup Bab 3

Ketika Darman tiba di rumah, matahari belum sepenuhnya terbit.

Ibunya masih terbaring.

Napasnya terdengar lebih lemah daripada malam sebelumnya.

Darman duduk di sampingnya.

Menggenggam tangannya.

"Ibu..."

Perempuan itu membuka mata.

"Darman sudah pulang?"

"Iya, Bu."

"Sudah makan?"

Darman menggeleng.

Ibunya berusaha tersenyum.

"Jangan lupa makan."

Darman menunduk.

Ada sesuatu yang menusuk dadanya.

Bahkan ketika tubuhnya sendiri hampir menyerah, ibunya masih memikirkan apakah anaknya sudah makan.

Begitulah cinta kadang bekerja.

Ia tidak selalu hadir dalam kata-kata indah.

Tidak selalu berupa pelukan panjang.

Kadang ia hanya muncul sebagai pertanyaan sederhana dari seseorang yang sedang menahan sakit:

"Sudah makan?"

Darman mencium tangan ibunya.

Lalu duduk diam di samping balai-balai.

Di luar, desa mulai terbangun.

Orang-orang kembali bekerja.

Pengeras suara kembali berbunyi.

Dan dunia, dengan segala ketidakadilannya, terus berjalan.

“Masa lalu ingin penyelesaian. Luka ingin pemulihan. Pikiran ingin jawaban. Namun hidup tidak selalu memberi kita kesempatan untuk menyelesaikan semuanya. Kadang ia hanya memberi waktu yang cukup untuk memilih: menjadi lebih pahit, atau menjadi lebih manusia.”

Darman menatap wajah ibunya.

Ia belum tahu apa yang akan terjadi setelah hari itu.

ada pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan:

Jika seluruh dunia tidak mampu menyelamatkan orang-orang yang kita cintai, kepada siapa kita harus meminta pertanggungjawaban?

Tanah Lebih Jujur daripada Langit (BAB KEDUA)

Catatan Penulis / Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Kedua. Jika Anda belum membaca awal mula kisah ini atau ingin menyegarkan ingatan tentang kejadian sebelumnya, silakan baca Bab Pertama di sini terlebih dahulu sebelum melanjutkan.

Selamat membaca!


“Perut yang lapar tidak membutuhkan janji tentang surga. Ia membutuhkan makanan. Dan manusia yang sedang sekarat tidak membutuhkan ceramah tentang kesabaran. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia menolong.”




Tubuh yang Dibayar dengan Racun


Dada ibu Darman berbunyi seperti gergaji tumpul setiap kali malam semakin dingin.

Di atas balai-balai bambu, perempuan itu terbatuk-batuk hingga tubuh kurusnya terkocok. Ia menutup mulut dengan kain lusuh, berusaha menyembunyikan bercak merah yang semakin sering muncul di sana.

Namun darah tidak pernah pandai menyembunyikan kenyataan.

Paru-parunya telah lama menjadi tempat penampungan debu dan asap.

Puluhan tahun jemarinya melinting tembakau milik orang lain. Setiap batang rokok yang selesai dibuat menghasilkan upah yang bahkan tidak cukup untuk membeli obat bagi tubuhnya sendiri.

Ia telah membantu memproduksi sesuatu yang membuat orang lain kaya, tetapi tidak mampu membeli kesembuhan untuk dirinya.

Begitulah kemiskinan bekerja dengan cara yang paling kejam.

Ia membuat manusia menghabiskan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan orang lain, sementara kebutuhan dirinya sendiri terus dipaksa menunggu.

Darman duduk di samping balai-balai, menggenggam cangkir air hangat.

"Ibu minum dulu."

Ibunya mengangguk lemah.

"Darman..."

"Iya, Bu?"

"Besok jangan lupa bantu bapak ke ladang."

Darman menunduk.

Bahkan dalam keadaan seperti itu, ibunya masih memikirkan pekerjaan.

Bukan karena ia tidak sakit.

Melainkan karena orang miskin sering kali tidak memiliki kemewahan untuk jatuh sakit.

Mereka boleh lelah, tetapi tidak boleh berhenti.

Mereka boleh menderita, tetapi tetap harus bekerja.

Dan ketika tubuh akhirnya menyerah, kematian sering kali datang bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai akhir dari kelelahan yang terlalu lama dipendam.

Tubuh ingin beristirahat, tetapi kemiskinan memaksanya terus bergerak. Hati ingin dicintai, tetapi kehidupan memaksanya sibuk bertahan. Dan manusia sering lupa bahwa bertahan hidup bukanlah hal yang sama dengan benar-benar hidup.

Darman memandang jemari ibunya.

Jemari yang kasar.

Penuh bekas luka kecil.

Jemari yang selama puluhan tahun menggulung daun tembakau untuk Juragan Kartawa.

Ia bertanya-tanya, berapa banyak kemewahan yang telah dibangun dari tangan-tangan seperti itu?

Dan berapa banyak orang miskin yang harus kehilangan kesehatan agar seseorang dapat disebut berhasil?

Panggung yang Lebih Terang daripada Rumah Orang Miskin

Sementara itu, di pusat desa, panggung megah berdiri dengan lampu-lampu gemerlap.

Suara pengeras menggelegar hingga ke rumah-rumah warga.

Malam itu, Juragan Kartawa duduk bersanding dengan seorang pemuka kerohanian muda yang sedang digandrungi masyarakat.

Pemuda itu terkenal bukan karena kedalaman ilmunya.

Ia dikenal karena gaya bicaranya yang gaul, penampilannya yang necis, leluconnya yang renyah, dan kepandaiannya membuat orang merasa sedang mendengarkan kebenaran meskipun sebagian besar yang keluar dari mulutnya hanyalah kalimat-kalimat yang menyenangkan telinga.

Warga berbondong-bondong datang.

Mereka tertawa.

Bersorak.

Di sudut warung, seorang cendekiawan tua duduk sendirian.

Ia dikenal pendiam, tekun, dan berilmu luas.

Bertahun-tahun ia mengajarkan pentingnya memeriksa kabar, membaca dengan teliti, dan tidak mudah menelan ucapan seseorang hanya karena orang itu mengenakan pakaian yang dianggap suci.

Namun tidak banyak yang mau mendengarkannya.

Bagi masyarakat yang telah terbiasa dengan hiburan, ilmu yang mendalam terasa seperti makanan hambar.

Mereka lebih menyukai suara yang menghibur daripada pikiran yang menantang.

Mereka menyukai orang yang membuat mereka merasa pintar tanpa harus berpikir.

Di atas panggung, sang penceramah mengangkat tangan.

"Saudara-saudaraku!"

"Juragan Kartawa adalah contoh nyata manusia yang diberkahi!"

Tepuk tangan pecah.

"Beliau bukan hanya kaya, tetapi juga dermawan. Semoga segala kebaikannya menjadi jalan menuju surga!"

Kartawa tersenyum.

Warga bersorak lebih keras.

Darman berdiri di tepi kerumunan.

Ia melihat bagaimana uang dapat membeli tepuk tangan.

Bagaimana sumbangan dapat menghapus pertanyaan.

Bagaimana seseorang bisa memperoleh citra kesucian hanya dengan membagikan sebagian kecil dari kekayaan yang dikumpulkannya melalui keringat orang lain.

Ia teringat ibunya.

Perempuan yang kini terbaring sakit karena bekerja di ladang tembakau.

Tak seorang pun di panggung itu membicarakan paru-paru buruh.

Tak seorang pun bertanya apakah upah mereka cukup untuk membeli obat.

Tak seorang pun menyebut keluarga yang harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya pengobatan.

Semua orang hanya membicarakan kebaikan.

Kebaikan yang terlihat.

Kebaikan yang bisa diumumkan melalui pengeras suara.

Darman menunduk dan bergumam:

Masyarakat ini tidak selalu membutuhkan kebenaran. Terkadang mereka hanya membutuhkan hiburan yang diberi stempel suci.

Namun di dalam hatinya, ia tahu persoalannya jauh lebih dalam.

Bukan hanya tentang Kartawa.

Bukan hanya tentang penceramah itu.

Melainkan tentang manusia yang rela menukar pertanyaan dengan kenyamanan.

Ketika Kelaparan Dianggap Kurang Berdoa

Bulan ketiga paceklik datang dengan wajah yang lebih buruk.

Sumur-sumur warga mengering.

Tanah sawah pecah-pecah seperti piring tua yang dilempar ke halaman.

Daun-daun menguning.

Hasil panen gagal.

Dan perut-perut kosong mulai menjadi pemandangan yang biasa.

Namun di tengah bencana itu, para penceramah populer dan kelompok-kelompok kepercayaan justru mengajak warga menggelar ritual penangkal malapetaka.

Mereka mengatakan bahwa bencana bukan semata-mata akibat kemarau panjang, pengelolaan pangan yang buruk, atau ketidakmampuan desa mengantisipasi musim paceklik.

Ada kekuatan gaib yang sedang marah.

Ada kesalahan spiritual yang harus ditebus.

Ada persembahan yang mesti disiapkan.

Keputusan itu disampaikan dengan penuh keyakinan.

Warga diminta membawa makanan terbaik.

Hewan sembelihan.

Minyak wangi.

Beras.

Harta benda.

Semuanya untuk menenangkan kekuatan yang tidak terlihat.

Orang-orang yang bahkan kesulitan memberi makan anaknya sendiri mulai mengumpulkan apa yang tersisa demi ritual tersebut.

Mereka takut.

Dan ketakutan adalah tanah paling subur bagi siapa pun yang ingin mengendalikan manusia.

Darman menyaksikan warga membawa nampan makanan menuju tempat-tempat keramat.

Ada yang menangis.

Ada yang berdoa keras-keras.

Ada yang percaya bahwa sedikit kelalaian dalam ritual akan membuat seluruh desa menerima bencana yang lebih besar.

Sementara itu, di balik dinding bambu tak jauh dari sana, anak kecil yang dahulu ditampar karena mencuri singkong terbaring lemas.

Perutnya kosong.

Tubuhnya dingin.

Ia memuntahkan cairan asam karena lambungnya tak lagi memiliki makanan untuk dicerna.

Tidak ada yang datang.

Tidak ada yang membawa beras.

Tidak ada yang bertanya apakah ia masih sanggup bertahan malam itu.

Darman mengepalkan tangan.

Ia mulai melihat ironi yang begitu telanjang, tetapi tidak seorang pun tampak merasa malu.

Mereka rela memberikan makanan kepada sesuatu yang mereka percaya menguasai nasib.

Namun enggan memberikan makanan kepada manusia yang nasibnya benar-benar berada di hadapan mata mereka.

Manusia kerap gentar pada bayang-bayang yang tak terlihat, namun dengan mudah membutakan mata dari derita yang nyata.

Makanan yang Dibakar, Anak yang Kelaparan

Setelah kerumunan bubar, Darman berjalan menuju lokasi ritual.

Sore telah turun.

Asap kemenyan masih menggantung di udara.

Sisa makanan berserakan.

Beberapa nampan berisi nasi dan lauk mulai dikerumuni lalat.

Ada ayam panggang yang belum tersentuh.

Ada buah-buahan yang masih utuh.

Ada beras yang tumpah ke tanah.

Semuanya perlahan akan membusuk.

Darman berdiri di tengah sisa-sisa persembahan itu.

Ia membayangkan wajah anak kecil yang terbaring lemah.

Kemudian ia menatap langit.

"Tuhan..."

Suaranya hampir tidak terdengar.

"Jika Engkau memang ada di atas sana, apa yang sebenarnya sedang kami lakukan?"

Ia memandang makanan yang dibuang.

"Apakah Engkau membutuhkan semua ini?"

Darman tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena ada jenis kesedihan yang terlalu dalam hingga hanya mampu keluar sebagai tawa getir.

"Jika Engkau Maha Kuasa, mengapa makanan ini harus dibakar agar Engkau berkenan, sementara anak-anak di rumah mereka sendiri tidak memiliki sesuatu untuk dimakan?"

Angin sore berembus.

Tidak ada jawaban.

Darman mengusap wajahnya.

Ia tahu pertanyaan itu mungkin akan kembali disebut sesat.

Namun semakin ia melihat penderitaan di sekitarnya, semakin sulit baginya menerima jawaban yang hanya meminta manusia diam dan bersabar.

Sabar.

Kata itu mulai terasa asing.

Sebab kesabaran yang tidak disertai tindakan dapat berubah menjadi alasan untuk membiarkan kejahatan terus berlangsung.

Dan doa yang tidak pernah mendorong manusia menolong sesamanya, mungkin hanya menjadi cara lain untuk merasa telah melakukan sesuatu.

Percakapan dengan Bapak

Malamnya, Darman duduk di teras bersama bapaknya.

Lelaki tua itu baru pulang dari ladang tembakau.

Bajunya penuh debu.

Tangannya kasar.

Ia menyalakan sisa lintingan murah, lalu menarik napas panjang.

Dada lelaki itu berbunyi pelan.

Krek.

Darman memperhatikan asap yang keluar dari mulut bapaknya.

Asap yang berasal dari tanaman yang selama ini mereka tanam sendiri.

"Pak."

"Hm?"

"Kenapa orang-orang lebih suka mendengarkan penceramah yang pandai bersolek daripada orang berilmu?"

Bapaknya diam.

"Kenapa mereka memuja orang yang meracuni paru-paru kita, hanya karena orang itu membagikan sedikit beras?"

Bapaknya menatap halaman.

"Darman, jangan bicara macam-macam."

"Tapi, Pak—"

"Ucapanmu itu bisa membawa masalah."

Darman menahan napas.

Kemudian bertanya dengan suara yang lebih pelan.

"Kenapa Bapak masih percaya kepada Tuhan yang sama sekali tidak pernah menolong kita?"

Bapaknya menoleh.

Ada ketakutan di matanya.

Bukan kemarahan.

Ketakutan.

Seolah pertanyaan anaknya bukan sekadar pertanyaan, melainkan pintu menuju sesuatu yang tidak sanggup ia hadapi.

"Darman..."

"Iya, Pak?"

"Kalau kita tidak percaya Tuhan dan takdir, kita mau berharap kepada siapa lagi saat hidup kita tertindas?"

Darman terdiam beberapa detik.

Lalu ia menjawab:

"Itu masalahnya, Pak."

Suaranya mulai meninggi.

"Kita diajari berharap pada sesuatu yang tidak bisa kita lihat, sementara orang-orang yang menindas kita berdiri tepat di depan mata!"

Bapaknya menghela napas.

"Tuhan bukan penyebab kemiskinan kita."

"Mungkin bukan. Tapi nama Tuhan terus dipakai agar kita menerima kemiskinan ini seolah-olah tidak boleh melawan!"

"Darman, cukup."

"Kita bekerja seumur hidup, Pak! Ibu sakit karena tembakau! Bapak sendiri setiap hari menghirup racun dari ladang yang sama! Tapi orang yang menjual semua itu justru dipuja sebagai orang baik!"

Bapaknya menunduk.

Darman melanjutkan, kini dengan suara yang bergetar:

"Kalau Tuhan itu Maha Adil, kenapa keadilan selalu berhenti di mulut orang-orang yang paling banyak bicara tentang-Nya?"

Bapaknya tidak menjawab.

Ia hanya menatap rokok di antara jemarinya.

Bara kecil di ujung lintingan menyala.

Lalu perlahan menjadi abu.

Keyakinan yang Berubah Menjadi Kemarahan

Sejak malam itu, keraguan di kepala Darman berubah bentuk.

Sebelumnya, ia masih berharap ada penjelasan yang dapat mendamaikan akal dan keyakinannya.

Ia masih mencari.

Masih membaca.

Masih berdoa.

Namun kini, sesuatu di dalam dirinya mulai mengeras.

Ia melihat pola yang sama di mana-mana.

Orang kaya membeli citra kesucian melalui sumbangan.

Orang miskin diajari menerima penderitaan sebagai ujian.

Figur populer dipuja meskipun miskin ilmu.

Orang yang bertanya dicap sesat.

Dan konsep ketuhanan kerap dipakai untuk memberi pembenaran pada keadaan yang tidak adil.

Darman mulai menyimpulkan bahwa dunia di sekitarnya tidak dibangun berdasarkan keadilan.

Dunia bekerja berdasarkan kekuasaan.

Uang.

Ketakutan.

Dan kemampuan manusia memengaruhi pikiran manusia lainnya.

Kesimpulan itu membuatnya marah.

Namun kemarahan yang terlalu lama dipelihara dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya daripada kebencian.

Ia dapat membuat seseorang merasa bahwa hanya dirinya yang mampu melihat kebenaran.

Dan ketika seseorang mulai menganggap dirinya satu-satunya manusia yang sadar, ia mungkin sedang membangun penjara baru di dalam pikirannya sendiri.

Darman belum menyadari hal itu.

Ia masih terlalu sibuk melawan apa yang menurutnya merupakan kebohongan terbesar dalam hidup manusia.

Malam itu, ia membuka buku catatannya.

Lampu minyak bergoyang tertiup angin.

Pena kembali bergerak.

Ia menulis:

Tuhan yang disembah manusia mungkin bukan pencipta alam semesta, melainkan bayangan dari ketakutan mereka sendiri.

Darman berhenti.

Memandangi kalimat itu.

Kemudian melanjutkan:

Mungkin manusia menciptakan Tuhan karena mereka tidak sanggup menerima kenyataan bahwa hidup ini penuh penderitaan dan tidak selalu menyediakan jawaban.

Ia menarik napas.

Namun jika Tuhan benar-benar ada dan membiarkan dunia dikuasai oleh manipulasi, racun, serta kedunguan, mengapa manusia masih menggunakan nama-Nya untuk membenarkan semua itu?

Pena di tangannya semakin cepat.

Kalimat-kalimat berikutnya lahir dari kemarahan yang belum menemukan tempat untuk pulang.

Jika Tuhan tidak ada, maka berhentilah menengadah ke langit sambil mengabaikan kejahatan di depan mata. Dan jika Tuhan ada, semoga Dia tidak tersinggung ketika seorang manusia miskin bertanya mengapa manusia lain dibiarkan menderita atas nama-Nya.

Darman menutup buku itu.

Namun kali ini, ia tidak merasa lebih ringan.

Sebab ada pertanyaan yang tidak selesai hanya dengan menuliskannya.

Ada luka yang tidak sembuh hanya karena berhasil diberi nama.

Dan ada kemarahan yang, jika tidak dijinakkan oleh kebijaksanaan, perlahan dapat mengubah orang yang ingin melawan ketidakadilan menjadi manusia yang tidak lagi mampu melihat kelemahan orang lain.

Penutup Bab 2

Malam semakin larut.

Darman berbaring di samping ibunya yang tertidur gelisah.

Dari luar, terdengar suara orang-orang masih membicarakan ritual paceklik.

Sebagian percaya bencana akan segera berakhir.

Sebagian menyalahkan orang-orang yang dianggap kurang beriman.

Dan sebagian lainnya hanya menunggu keajaiban yang tidak pernah mereka usahakan.

Darman memejamkan mata.

Namun sebelum tidur, sebuah pikiran melintas di kepalanya:

“Mungkin yang paling menyedihkan dari manusia bukanlah ketika ia kehilangan Tuhan, melainkan ketika ia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara pengharapan dan penyerahan diri.”

Di sampingnya, ibunya kembali batuk.

Darman membuka mata.

Ia menoleh.

Perempuan itu masih hidup.

Masih bernapas.

Masih berjuang.

Dan untuk pertama kalinya, Darman merasa bahwa waktu tidak lagi berjalan sebagai sesuatu yang netral.

Waktu sedang mengambil sesuatu darinya.

Sedikit demi sedikit.

Tanpa menunggu izin.

Tanah Lebih Jujur daripada Langit (BAB PERTAMA)

“Sebelum manusia mengenal siapa dirinya, dunia telah lebih dulu memberinya nama, agama, kelas sosial, dan dosa-dosa yang bahkan belum sempat ia lakukan.”





PART I
Anak yang Dilahirkan oleh Ketakutan


Namanya Darman Sastrodiharjo.

Orang sekampung cukup memanggilnya Darman.

Ia lahir dari rahim seorang perempuan buruh tani pelinting rokok, di atas tanah yang bahkan tidak pernah benar-benar menjadi milik bapaknya. Seumur hidup, bapaknya mencangkul kebun tembakau milik tuan tanah, menanam sesuatu yang tak akan pernah bisa ia miliki, sementara ibunya menghabiskan masa mudanya membalut daun-daun kering menjadi batang-batang candu.

Mereka bekerja agar orang lain bisa kaya.

Mereka menghirup debu agar orang lain bisa menghirup kemewahan.

Dan dari upah murah itulah, ibunya menyuruh Darman mendatangi tempat ibadah.

Bukan agar kelak ia menjadi manusia suci yang diagungkan.

Melainkan agar ia tidak tumbuh menjadi pencuri.

Sebab bagi orang miskin, bahkan moralitas pun kadang diwariskan sebagai alat untuk bertahan hidup.

Anak orang kaya boleh salah langkah dan disebut sedang mencari pengalaman. Anak orang miskin melakukan kesalahan kecil, lalu seluruh kampung merasa berhak menghakimi masa depannya.

Darman dilahirkan sebagai orang beragama.

Bukan karena ia memilih, melainkan karena ia terlambat menolak.

Sejak bayi, telinga kanannya diisi lantunan doa, sementara telinga kirinya diperkenalkan pada ancaman neraka. Sebelum memahami arti suci, ia sudah diajari ketakutan. Sebelum mengenal kasih sayang, ia telah diberi daftar panjang tentang hal-hal yang harus ditakuti.

Ia diajari cara menundukkan kepala sebelum sempat bertanya mengapa.

Ia diajari menghafal sebelum sempat memahami.

Ia diajari percaya sebelum sempat memilih.

Dan begitulah sebagian besar manusia dibesarkan: menerima jawaban-jawaban dari dunia sebelum memiliki kesempatan untuk merumuskan pertanyaan sendiri.

Darman tumbuh menjadi pemuda yang patuh pada ritual. Ia hafal tata cara ibadah, doa-doa, aturan kesucian, dan berbagai larangan yang membuat hidupnya dipenuhi batas-batas tak kasatmata.

Namun semakin dewasa, semakin sering ia menemukan sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Ada orang-orang yang rajin menyebut nama Tuhan, tetapi tega menyakiti manusia.

Ada orang-orang yang paling lantang berbicara tentang surga, tetapi membiarkan tetangganya kelaparan.

Ada orang-orang yang mengaku menjaga kesucian, tetapi diam-diam memelihara keserakahan.

Darman mulai bertanya-tanya:

Apakah Tuhan benar-benar hadir dalam kehidupan manusia?

Ataukah nama-Nya hanya dipinjam oleh manusia untuk membenarkan apa pun yang ingin mereka lakukan?

Pertanyaan itu tumbuh perlahan.

Seperti retakan kecil pada dinding rumah.

Mula-mula tidak terlihat.

Lalu melebar.

Hingga suatu hari, seluruh bangunan keyakinan yang selama ini dianggap kokoh mulai terasa rapuh.

PART II
Tuhan di Atas Tanah Milik Juragan

Ketimpangan itu paling jelas terlihat pada sosok Juragan Kartawa.

Pemilik kebun tembakau terbesar di desa.

Di mata warga, Kartawa adalah tokoh adat, dermawan, sekaligus pahlawan yang konon menjadi berkah bagi kehidupan kampung.

Ia rajin menyponsori pesta rakyat.

Memberikan sumbangan besar ke rumah ibadah.

Membagi-bagikan beras menjelang hari raya.

Namanya disebut dalam doa-doa para pemuka agama.

Wajahnya dipajang dalam acara-acara desa.

Namun hampir tak seorang pun mau bertanya dari mana kekayaan itu berasal.

Sebab manusia sering kali lebih tertarik pada tangan yang memberi daripada tangan yang sebelumnya merampas.

Kartawa memperkaya diri dari tembakau yang ditanam, dipanen, dan dilinting oleh orang-orang miskin seperti orang tua Darman.

Dari hasil keringat mereka, ia membangun rumah besar.

Dari paru-paru mereka, ia membeli kendaraan.

Dari upah yang ditekan serendah mungkin, ia mengumpulkan kekayaan yang tak akan habis dimakan tujuh keturunan.

Sementara itu, asap rokok yang diproduksi dari kebun-kebunnya perlahan menggerogoti tubuh warga.

Anak-anak batuk menahun.

Orang-orang tua kehilangan napas.

Keluarga buruh menyisihkan uang makan demi membeli rokok yang dipasarkan sebagai lambang kedewasaan, keberanian, bahkan kejantanan.

Racun dikemas menjadi tradisi.

Keserakahan disamarkan menjadi kemakmuran.

Dan orang yang paling banyak mengambil keuntungan justru dipuja sebagai penyelamat.

Darman memperhatikan semua itu dengan kegelisahan yang tak mampu ia jelaskan kepada siapa pun.

Ia mulai memahami bahwa dunia tidak selalu memberikan penghargaan kepada orang yang paling baik.

Kadang dunia justru mengangkat orang yang paling pandai menyembunyikan kejahatannya.

“Manusia sering kali tidak menyembah kebenaran. Mereka menyembah kenyamanan yang membuat mereka tidak perlu merasa bersalah.”

PART III
Singkong yang Jatuh ke Tanah

Sampai suatu sore di musim paceklik.

Tanah mengeras.

Sumur-sumur mulai menyusut.

Dan perut manusia terdengar lebih jujur daripada doa-doa yang dipanjatkan di rumah ibadah.

Sore itu, Darman melewati kebun singkong milik seorang pemuka agama terpandang di desa.

Di sanalah ia melihat seorang anak kecil tertangkap mencuri.

Tubuh anak itu kurus, lebih kecil daripada karung goni yang biasa digunakan buruh untuk mengangkut hasil panen.

Kakinya berlepotan lumpur.

Rambutnya kusut.

Perutnya menggelembung kempis, seperti tubuh yang terlalu lama bernegosiasi dengan kelaparan.

Di tangannya, hanya ada sebatang singkong.

Bukan sekeranjang.

Bukan satu karung.

Hanya sebatang.

Namun bagi anak itu, mungkin itulah satu-satunya kesempatan untuk melewati malam tanpa tidur ditemani rasa lapar.

Sang pemuka agama berdiri di hadapannya.

Orang yang suaranya paling nyaring ketika memimpin doa.

Orang yang khotbahnya paling panjang.

Orang yang paling fasih berbicara tentang dosa, pahala, dan kemurahan hati.

Tangannya melayang.

Plak!

Tamparan itu mendarat keras di pipi si anak.

Darman terdiam.

Anak itu tidak menangis karena pipinya perih.

Ia menangis karena singkong yang digenggamnya terlepas, jatuh ke tanah kotor, dan tak lagi bisa dimakan.

Ada tangisan yang lahir dari rasa sakit.

Ada pula tangisan yang lahir karena manusia baru saja kehilangan harapan terakhirnya.

Dan sore itu, Darman menyaksikan keduanya bertemu dalam tubuh seorang anak kecil.

Sang pemuka agama kemudian membersihkan tangannya di bejana penyucian.

Dengan tenang.

Seolah tidak ada yang baru saja terjadi.

Seolah tangan yang digunakan untuk menampar orang lapar dapat kembali suci hanya dengan air.

Setelah itu, ia berjalan menuju mimbar.

Ritual harus dimulai tepat waktu.

Darman berdiri mematung.

Di hadapannya, seorang anak dihukum karena mengambil makanan.

Di belakangnya, rumah ibadah bersiap memuji Tuhan yang katanya Maha Pengasih.

Untuk pertama kalinya, Darman merasakan sesuatu yang patah di dalam dirinya.

Bukan imannya.

Belum.

Melainkan keyakinannya bahwa orang-orang yang berbicara paling banyak tentang Tuhan pasti memiliki hati yang paling dekat dengan kemanusiaan.

PART IV
Kebohongan yang Dibenarkan

Keesokan harinya, desas-desus menyebar lebih cepat daripada wabah.

Pasar desa gempar.

Namun bukan karena rasa iba kepada anak kecil itu.

Melainkan karena cerita yang telah berubah bentuk setelah berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya.

Seseorang berkata anak itu bukan sekadar pencuri.

Yang lain menambahkan bahwa ia bagian dari komplotan pencuri gaib.

Ada yang mengaku melihat jimat di dekat rumahnya.

Ada pula yang bersumpah bahwa keluarganya akan menerima kualat adat.

Dalam waktu singkat, seorang anak yang mencuri singkong karena lapar telah berubah menjadi ancaman mistis bagi seluruh kampung.

Tak seorang pun datang untuk bertanya langsung.

Tak seorang pun merasa perlu memeriksa kebenaran.

Mereka hanya membutuhkan cerita yang bisa membuat mereka merasa benar.

Masyarakat begitu mudah menelan kabar burung, terutama jika kabar itu memberi mereka kesempatan untuk menghakimi seseorang.

Darman memperhatikan bagaimana kebohongan dapat tumbuh menjadi kebenaran ketika diulang oleh cukup banyak orang.

Ia melihat bahwa banyak manusia tidak mencari fakta.

Mereka mencari pembenaran.

Sebab kebenaran terkadang menuntut keberanian untuk mengakui bahwa kita telah salah.

Sedangkan kebohongan hanya membutuhkan kerumunan.

“Kebohongan tidak selalu menang karena lebih kuat daripada kebenaran. Kadang ia menang karena manusia terlalu malas memeriksa apa yang ingin mereka percayai.”

Padahal ajaran agama mana pun yang menjunjung keadilan semestinya mengajarkan manusia untuk memeriksa kabar sebelum menjatuhkan hukuman.

Tabayyun.

Meneliti.

Mendengarkan kedua sisi.

Namun bagi sebagian warga, memeriksa kebenaran terasa terlalu merepotkan.

Jauh lebih mudah ikut mencibir.

Jauh lebih nikmat menjadi bagian dari kerumunan yang merasa suci daripada berdiri sendirian membela seseorang yang telah dituduh.

Darman mulai memahami satu hal yang mengerikan:

Manusia bisa mengubah kekejaman menjadi kebajikan selama cukup banyak orang menyebutnya sebagai kewajaran.

PART V
Kelaparan untuk Manusia

Paceklik semakin parah.

Sawah menguning sebelum waktunya.

Sumur-sumur mengering.

Anak-anak mulai tidur dengan perut kosong.

Namun ketika kesulitan datang, warga desa tidak serta-merta mencari cara untuk mengelola sisa pangan, memperbaiki irigasi, atau saling membagi persediaan.

Sebaliknya, mereka berbondong-bondong membawa sesajen, ayam hitam, dan kemenyan ke bawah pohon tua di pinggir desa.

Atas petunjuk pemuka adat, mereka percaya bencana terjadi karena penguasa gaib desa sedang murka.

Makanan yang seharusnya bisa mengisi perut manusia diletakkan di hadapan akar pohon.

Ayam disembelih.

Kemenyan dibakar.

Doa-doa dilantunkan dengan wajah penuh kecemasan.

Darman berdiri agak jauh, menyaksikan semua itu dengan perasaan yang sulit dibendung.

Ia melihat makanan utuh dibiarkan membusuk.

Ia melihat orang-orang memohon kepada sesuatu yang tidak dapat mereka pastikan keberadaannya.

Sementara di rumah-rumah sekitar, anak-anak menangis karena lapar.

Ada sesuatu yang ganjil dalam cara manusia menghadapi penderitaan.

Mereka sanggup memberikan yang terbaik kepada sesuatu yang mereka takuti.

Namun begitu pelan ketika diminta memberikan sedikit kepada manusia yang benar-benar membutuhkan.

Darman tidak sedang menertawakan keyakinan orang lain.

Ia sedang mempertanyakan sebuah masyarakat yang menjadikan ritual sebagai pengganti tanggung jawab.

Sebuah masyarakat yang merasa telah berbuat baik hanya karena telah melakukan sesuatu yang dianggap suci, meskipun tetangganya tetap kelaparan.

“Tidak semua yang disebut pengorbanan adalah kebaikan. Terkadang manusia hanya sedang membuang tanggung jawabnya ke langit agar tidak perlu menolong orang yang berada di sampingnya.”

PART VI
Pertanyaan yang Dilarang

Di tempat ibadah, Darman akhirnya memberanikan diri bertanya kepada pengajar kerohaniannya.

Ia telah menyimpan pertanyaan itu terlalu lama.

Dan pertanyaan yang dipendam terlalu lama kadang berubah menjadi luka.

"Ustaz," katanya suatu sore, "mengapa orang lapar yang mengambil sebatang singkong dianggap pembawa sial, sementara saudagar tembakau yang menjual racun dan menimbun hasil keringat buruh dipuja sebagai tokoh adat?"

Sang pengajar menatapnya.

Darman melanjutkan.

"Mengapa kita sibuk memberi makan pohon tua dengan kemenyan, tetapi membiarkan anak yatim menahan lapar?"

Ia menarik napas.

"Dan jika Tuhan itu ada dan Maha Adil, mengapa Dia diam saja melihat kebodohan yang mengatasnamakan nama-Nya ini?"

Suasana mendadak berubah.

Beberapa orang yang berada di sekitar mereka mulai menoleh.

Sang pengajar mengerutkan dahi.

"Jangan banyak bertanya, Darman!"

"Tapi saya hanya ingin memahami—"

"Iman itu percaya tanpa syarat."

"Apakah bertanya salah?"

"Jangan gunakan akalmu untuk mempertanyakan hukum Tuhan, tradisi leluhur, dan kebaikan para dermawan desa."

Darman terdiam.

Sang pengajar mendekatkan wajahnya.

"Bertanya seperti itu adalah benih kesesatan."

Kalimat itu jatuh lebih berat daripada yang Darman bayangkan.

Bukan karena ia takut disebut sesat.

Melainkan karena ia baru saja menyadari bahwa di tempat yang seharusnya menjadi ruang pencarian kebenaran, pertanyaan justru dianggap sebagai ancaman.

Hari itu juga, sebuah stempel baru melekat di kening Darman:

Si Sesat.

PART VII
Nama yang Diberikan Kerumunan

Kabar tentang Darman menyebar.

Ia disebut telah murtad.

Dituduh ketempelan roh jahat.

Dikatakan terlalu banyak membaca buku.

Sebagian orang bahkan mengaku bahwa sejak kecil Darman memang memiliki tanda-tanda pembangkangan.

Tidak ada yang datang untuk bertanya langsung kepadanya.

Tidak ada yang ingin mendengar kegelisahannya.

Mereka telah menjatuhkan vonis, lalu mencari alasan untuk membenarkannya.

Setiap kali Darman lewat, bisik-bisik terdengar dari balik jendela.

Anak-anak dilarang bermain terlalu dekat dengannya.

Orang-orang yang dahulu menyapanya kini memalingkan muka.

Ia menjadi asing di tanah kelahirannya sendiri.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah ketika orang lain menyebutnya sesat.

Melainkan ketika ia mulai bertanya apakah seluruh hidupnya memang hanya akan menjadi usaha sia-sia untuk menjelaskan bahwa ia tidak sedang membenci Tuhan.

Ia hanya sedang membenci ketidakadilan.

Ia tidak sedang menghina iman.

Ia hanya tidak tahan melihat iman dijadikan selimut untuk menutupi kejahatan.

Ia tidak sedang memusuhi manusia beragama.

Ia hanya kecewa kepada manusia yang menggunakan agama untuk berhenti menjadi manusia.

PART VIII
Catatan di Bawah Lampu Minyak

Malam itu, Darman duduk di dalam bilik bambu peninggalan bapaknya.

Atapnya bocor di beberapa tempat.

Angin masuk melalui celah dinding.

Lampu minyak di atas meja menyala remang-remang, seperti nyala harapan yang terlalu sering diterpa kenyataan.

Di luar, suara jangkrik bersahutan.

Di dalam, Darman membuka buku catatan lusuhnya.

Ia menulis bukan untuk menghujat Tuhan.

Jika Sang Pencipta memang ada, pikirnya, Dia tidak akan hancur hanya karena gugatan seorang buruh tani.

Ia menulis untuk menyelamatkan sesuatu yang masih tersisa dalam dirinya.

Akal sehatnya.

Rasa iba.

Keberaniannya untuk bertanya.

Dan mungkin, kemanusiaannya.

Sebab ia mulai melihat bahwa manusia dapat kehilangan kemanusiaan bukan karena tidak mengenal agama, melainkan karena terlalu sibuk membela kesucian simbol-simbol sambil mengabaikan penderitaan nyata.

Darman menunduk.

Pena di tangannya bergerak perlahan.

Lalu ia menuliskan kalimat:

"Tuhan, jika Engkau memang ada, jangan biarkan aku menemukan-Mu di tempat yang salah."

Ia berhenti sejenak.

Memandangi kalimat itu.

Kemudian menambahkan:

"Jangan biarkan aku mengira bahwa Engkau hadir dalam suara orang-orang yang menghakimi, sementara Engkau absen dari tangisan mereka yang kelaparan."

Darman menutup bukunya.

Namun pertanyaan-pertanyaan itu tidak ikut tertutup.

Mereka tetap hidup di dalam kepalanya.

Berkembang.

Mendesak.

Menunggu jawaban yang mungkin tidak akan pernah datang.

Di luar bilik, desa masih terlelap dalam keyakinannya masing-masing.

Juragan Kartawa masih kaya.

Para pemuka agama masih dihormati.

Orang-orang miskin masih bekerja.

Dan anak-anak masih belajar bahwa mencuri makanan adalah dosa yang lebih mudah dihukum daripada mencuri masa depan seluruh generasi.

Darman memadamkan lampu minyak.

Dalam kegelapan, ia berbaring tanpa benar-benar tidur.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mungkin perjalanan terberat dalam hidup manusia bukanlah menemukan Tuhan.

Melainkan menemukan keberanian untuk tetap menjadi manusia ketika dunia mengajarinya bahwa kekejaman bisa disebut suci.

Penutup Bab 1

Tubuh mendambakan makanan. Hati mendambakan kasih sayang. Jiwa mencari kedamaian. Pikiran menuntut jawaban. Namun ketika manusia terlalu sibuk mempertahankan keyakinannya, sering kali ia lupa bahwa di hadapannya ada manusia lain yang hanya ingin bertahan hidup.

Dan malam itu, di sebuah bilik bambu yang nyaris runtuh, Darman mulai memahami bahwa pertanyaan yang paling berbahaya bukanlah:

"Apakah Tuhan itu ada?"

Melainkan:

"Jika kita mengaku percaya kepada Tuhan, mengapa kita masih tega membiarkan manusia lain menderita?"