Catatan Penulis / Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Kedua. Jika Anda belum membaca awal mula kisah ini atau ingin menyegarkan ingatan tentang kejadian sebelumnya, silakan baca
Selamat membaca!
“Perut yang lapar tidak membutuhkan janji tentang surga. Ia membutuhkan makanan. Dan manusia yang sedang sekarat tidak membutuhkan ceramah tentang kesabaran. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia menolong.”
Tubuh yang Dibayar dengan Racun
Dada ibu Darman berbunyi seperti gergaji tumpul setiap kali malam semakin dingin.
Di atas balai-balai bambu, perempuan itu terbatuk-batuk hingga tubuh kurusnya terkocok. Ia menutup mulut dengan kain lusuh, berusaha menyembunyikan bercak merah yang semakin sering muncul di sana.
Namun darah tidak pernah pandai menyembunyikan kenyataan.
Paru-parunya telah lama menjadi tempat penampungan debu dan asap.
Puluhan tahun jemarinya melinting tembakau milik orang lain. Setiap batang rokok yang selesai dibuat menghasilkan upah yang bahkan tidak cukup untuk membeli obat bagi tubuhnya sendiri.
Ia telah membantu memproduksi sesuatu yang membuat orang lain kaya, tetapi tidak mampu membeli kesembuhan untuk dirinya.
Begitulah kemiskinan bekerja dengan cara yang paling kejam.
Ia membuat manusia menghabiskan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan orang lain, sementara kebutuhan dirinya sendiri terus dipaksa menunggu.
Darman duduk di samping balai-balai, menggenggam cangkir air hangat.
"Ibu minum dulu."
Ibunya mengangguk lemah.
"Darman..."
"Iya, Bu?"
"Besok jangan lupa bantu bapak ke ladang."
Darman menunduk.
Bahkan dalam keadaan seperti itu, ibunya masih memikirkan pekerjaan.
Bukan karena ia tidak sakit.
Melainkan karena orang miskin sering kali tidak memiliki kemewahan untuk jatuh sakit.
Mereka boleh lelah, tetapi tidak boleh berhenti.
Mereka boleh menderita, tetapi tetap harus bekerja.
Dan ketika tubuh akhirnya menyerah, kematian sering kali datang bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai akhir dari kelelahan yang terlalu lama dipendam.
Tubuh ingin beristirahat, tetapi kemiskinan memaksanya terus bergerak. Hati ingin dicintai, tetapi kehidupan memaksanya sibuk bertahan. Dan manusia sering lupa bahwa bertahan hidup bukanlah hal yang sama dengan benar-benar hidup.
Darman memandang jemari ibunya.
Jemari yang kasar.
Penuh bekas luka kecil.
Jemari yang selama puluhan tahun menggulung daun tembakau untuk Juragan Kartawa.
Ia bertanya-tanya, berapa banyak kemewahan yang telah dibangun dari tangan-tangan seperti itu?
Dan berapa banyak orang miskin yang harus kehilangan kesehatan agar seseorang dapat disebut berhasil?
Panggung yang Lebih Terang daripada Rumah Orang Miskin
Sementara itu, di pusat desa, panggung megah berdiri dengan lampu-lampu gemerlap.
Suara pengeras menggelegar hingga ke rumah-rumah warga.
Malam itu, Juragan Kartawa duduk bersanding dengan seorang pemuka kerohanian muda yang sedang digandrungi masyarakat.
Pemuda itu terkenal bukan karena kedalaman ilmunya.
Ia dikenal karena gaya bicaranya yang gaul, penampilannya yang necis, leluconnya yang renyah, dan kepandaiannya membuat orang merasa sedang mendengarkan kebenaran meskipun sebagian besar yang keluar dari mulutnya hanyalah kalimat-kalimat yang menyenangkan telinga.
Warga berbondong-bondong datang.
Mereka tertawa.
Bersorak.
Di sudut warung, seorang cendekiawan tua duduk sendirian.
Ia dikenal pendiam, tekun, dan berilmu luas.
Bertahun-tahun ia mengajarkan pentingnya memeriksa kabar, membaca dengan teliti, dan tidak mudah menelan ucapan seseorang hanya karena orang itu mengenakan pakaian yang dianggap suci.
Namun tidak banyak yang mau mendengarkannya.
Bagi masyarakat yang telah terbiasa dengan hiburan, ilmu yang mendalam terasa seperti makanan hambar.
Mereka lebih menyukai suara yang menghibur daripada pikiran yang menantang.
Mereka menyukai orang yang membuat mereka merasa pintar tanpa harus berpikir.
Di atas panggung, sang penceramah mengangkat tangan.
"Saudara-saudaraku!"
"Juragan Kartawa adalah contoh nyata manusia yang diberkahi!"
Tepuk tangan pecah.
"Beliau bukan hanya kaya, tetapi juga dermawan. Semoga segala kebaikannya menjadi jalan menuju surga!"
Kartawa tersenyum.
Warga bersorak lebih keras.
Darman berdiri di tepi kerumunan.
Ia melihat bagaimana uang dapat membeli tepuk tangan.
Bagaimana sumbangan dapat menghapus pertanyaan.
Bagaimana seseorang bisa memperoleh citra kesucian hanya dengan membagikan sebagian kecil dari kekayaan yang dikumpulkannya melalui keringat orang lain.
Ia teringat ibunya.
Perempuan yang kini terbaring sakit karena bekerja di ladang tembakau.
Tak seorang pun di panggung itu membicarakan paru-paru buruh.
Tak seorang pun bertanya apakah upah mereka cukup untuk membeli obat.
Tak seorang pun menyebut keluarga yang harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya pengobatan.
Semua orang hanya membicarakan kebaikan.
Kebaikan yang terlihat.
Kebaikan yang bisa diumumkan melalui pengeras suara.
Darman menunduk dan bergumam:
Masyarakat ini tidak selalu membutuhkan kebenaran. Terkadang mereka hanya membutuhkan hiburan yang diberi stempel suci.
Namun di dalam hatinya, ia tahu persoalannya jauh lebih dalam.
Bukan hanya tentang Kartawa.
Bukan hanya tentang penceramah itu.
Melainkan tentang manusia yang rela menukar pertanyaan dengan kenyamanan.
Ketika Kelaparan Dianggap Kurang Berdoa
Bulan ketiga paceklik datang dengan wajah yang lebih buruk.
Sumur-sumur warga mengering.
Tanah sawah pecah-pecah seperti piring tua yang dilempar ke halaman.
Daun-daun menguning.
Hasil panen gagal.
Dan perut-perut kosong mulai menjadi pemandangan yang biasa.
Namun di tengah bencana itu, para penceramah populer dan kelompok-kelompok kepercayaan justru mengajak warga menggelar ritual penangkal malapetaka.
Mereka mengatakan bahwa bencana bukan semata-mata akibat kemarau panjang, pengelolaan pangan yang buruk, atau ketidakmampuan desa mengantisipasi musim paceklik.
Ada kekuatan gaib yang sedang marah.
Ada kesalahan spiritual yang harus ditebus.
Ada persembahan yang mesti disiapkan.
Keputusan itu disampaikan dengan penuh keyakinan.
Warga diminta membawa makanan terbaik.
Hewan sembelihan.
Minyak wangi.
Beras.
Harta benda.
Semuanya untuk menenangkan kekuatan yang tidak terlihat.
Orang-orang yang bahkan kesulitan memberi makan anaknya sendiri mulai mengumpulkan apa yang tersisa demi ritual tersebut.
Mereka takut.
Dan ketakutan adalah tanah paling subur bagi siapa pun yang ingin mengendalikan manusia.
Darman menyaksikan warga membawa nampan makanan menuju tempat-tempat keramat.
Ada yang menangis.
Ada yang berdoa keras-keras.
Ada yang percaya bahwa sedikit kelalaian dalam ritual akan membuat seluruh desa menerima bencana yang lebih besar.
Sementara itu, di balik dinding bambu tak jauh dari sana, anak kecil yang dahulu ditampar karena mencuri singkong terbaring lemas.
Perutnya kosong.
Tubuhnya dingin.
Ia memuntahkan cairan asam karena lambungnya tak lagi memiliki makanan untuk dicerna.
Tidak ada yang datang.
Tidak ada yang membawa beras.
Tidak ada yang bertanya apakah ia masih sanggup bertahan malam itu.
Darman mengepalkan tangan.
Ia mulai melihat ironi yang begitu telanjang, tetapi tidak seorang pun tampak merasa malu.
Mereka rela memberikan makanan kepada sesuatu yang mereka percaya menguasai nasib.
Namun enggan memberikan makanan kepada manusia yang nasibnya benar-benar berada di hadapan mata mereka.
Manusia kerap gentar pada bayang-bayang yang tak terlihat, namun dengan mudah membutakan mata dari derita yang nyata.
Makanan yang Dibakar, Anak yang Kelaparan
Setelah kerumunan bubar, Darman berjalan menuju lokasi ritual.
Sore telah turun.
Asap kemenyan masih menggantung di udara.
Sisa makanan berserakan.
Beberapa nampan berisi nasi dan lauk mulai dikerumuni lalat.
Ada ayam panggang yang belum tersentuh.
Ada buah-buahan yang masih utuh.
Ada beras yang tumpah ke tanah.
Semuanya perlahan akan membusuk.
Darman berdiri di tengah sisa-sisa persembahan itu.
Ia membayangkan wajah anak kecil yang terbaring lemah.
Kemudian ia menatap langit.
"Tuhan..."
Suaranya hampir tidak terdengar.
"Jika Engkau memang ada di atas sana, apa yang sebenarnya sedang kami lakukan?"
Ia memandang makanan yang dibuang.
"Apakah Engkau membutuhkan semua ini?"
Darman tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena ada jenis kesedihan yang terlalu dalam hingga hanya mampu keluar sebagai tawa getir.
"Jika Engkau Maha Kuasa, mengapa makanan ini harus dibakar agar Engkau berkenan, sementara anak-anak di rumah mereka sendiri tidak memiliki sesuatu untuk dimakan?"
Angin sore berembus.
Tidak ada jawaban.
Darman mengusap wajahnya.
Ia tahu pertanyaan itu mungkin akan kembali disebut sesat.
Namun semakin ia melihat penderitaan di sekitarnya, semakin sulit baginya menerima jawaban yang hanya meminta manusia diam dan bersabar.
Sabar.
Kata itu mulai terasa asing.
Sebab kesabaran yang tidak disertai tindakan dapat berubah menjadi alasan untuk membiarkan kejahatan terus berlangsung.
Dan doa yang tidak pernah mendorong manusia menolong sesamanya, mungkin hanya menjadi cara lain untuk merasa telah melakukan sesuatu.
Percakapan dengan Bapak
Malamnya, Darman duduk di teras bersama bapaknya.
Lelaki tua itu baru pulang dari ladang tembakau.
Bajunya penuh debu.
Tangannya kasar.
Ia menyalakan sisa lintingan murah, lalu menarik napas panjang.
Dada lelaki itu berbunyi pelan.
Krek.
Darman memperhatikan asap yang keluar dari mulut bapaknya.
Asap yang berasal dari tanaman yang selama ini mereka tanam sendiri.
"Pak."
"Hm?"
"Kenapa orang-orang lebih suka mendengarkan penceramah yang pandai bersolek daripada orang berilmu?"
Bapaknya diam.
"Kenapa mereka memuja orang yang meracuni paru-paru kita, hanya karena orang itu membagikan sedikit beras?"
Bapaknya menatap halaman.
"Darman, jangan bicara macam-macam."
"Tapi, Pak—"
"Ucapanmu itu bisa membawa masalah."
Darman menahan napas.
Kemudian bertanya dengan suara yang lebih pelan.
"Kenapa Bapak masih percaya kepada Tuhan yang sama sekali tidak pernah menolong kita?"
Bapaknya menoleh.
Ada ketakutan di matanya.
Bukan kemarahan.
Ketakutan.
Seolah pertanyaan anaknya bukan sekadar pertanyaan, melainkan pintu menuju sesuatu yang tidak sanggup ia hadapi.
"Darman..."
"Iya, Pak?"
"Kalau kita tidak percaya Tuhan dan takdir, kita mau berharap kepada siapa lagi saat hidup kita tertindas?"
Darman terdiam beberapa detik.
Lalu ia menjawab:
"Itu masalahnya, Pak."
Suaranya mulai meninggi.
"Kita diajari berharap pada sesuatu yang tidak bisa kita lihat, sementara orang-orang yang menindas kita berdiri tepat di depan mata!"
Bapaknya menghela napas.
"Tuhan bukan penyebab kemiskinan kita."
"Mungkin bukan. Tapi nama Tuhan terus dipakai agar kita menerima kemiskinan ini seolah-olah tidak boleh melawan!"
"Darman, cukup."
"Kita bekerja seumur hidup, Pak! Ibu sakit karena tembakau! Bapak sendiri setiap hari menghirup racun dari ladang yang sama! Tapi orang yang menjual semua itu justru dipuja sebagai orang baik!"
Bapaknya menunduk.
Darman melanjutkan, kini dengan suara yang bergetar:
"Kalau Tuhan itu Maha Adil, kenapa keadilan selalu berhenti di mulut orang-orang yang paling banyak bicara tentang-Nya?"
Bapaknya tidak menjawab.
Ia hanya menatap rokok di antara jemarinya.
Bara kecil di ujung lintingan menyala.
Lalu perlahan menjadi abu.
Keyakinan yang Berubah Menjadi Kemarahan
Sejak malam itu, keraguan di kepala Darman berubah bentuk.
Sebelumnya, ia masih berharap ada penjelasan yang dapat mendamaikan akal dan keyakinannya.
Ia masih mencari.
Masih membaca.
Masih berdoa.
Namun kini, sesuatu di dalam dirinya mulai mengeras.
Ia melihat pola yang sama di mana-mana.
Orang kaya membeli citra kesucian melalui sumbangan.
Orang miskin diajari menerima penderitaan sebagai ujian.
Figur populer dipuja meskipun miskin ilmu.
Orang yang bertanya dicap sesat.
Dan konsep ketuhanan kerap dipakai untuk memberi pembenaran pada keadaan yang tidak adil.
Darman mulai menyimpulkan bahwa dunia di sekitarnya tidak dibangun berdasarkan keadilan.
Dunia bekerja berdasarkan kekuasaan.
Uang.
Ketakutan.
Dan kemampuan manusia memengaruhi pikiran manusia lainnya.
Kesimpulan itu membuatnya marah.
Namun kemarahan yang terlalu lama dipelihara dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya daripada kebencian.
Ia dapat membuat seseorang merasa bahwa hanya dirinya yang mampu melihat kebenaran.
Dan ketika seseorang mulai menganggap dirinya satu-satunya manusia yang sadar, ia mungkin sedang membangun penjara baru di dalam pikirannya sendiri.
Darman belum menyadari hal itu.
Ia masih terlalu sibuk melawan apa yang menurutnya merupakan kebohongan terbesar dalam hidup manusia.
Malam itu, ia membuka buku catatannya.
Lampu minyak bergoyang tertiup angin.
Pena kembali bergerak.
Ia menulis:
Tuhan yang disembah manusia mungkin bukan pencipta alam semesta, melainkan bayangan dari ketakutan mereka sendiri.
Darman berhenti.
Memandangi kalimat itu.
Kemudian melanjutkan:
Mungkin manusia menciptakan Tuhan karena mereka tidak sanggup menerima kenyataan bahwa hidup ini penuh penderitaan dan tidak selalu menyediakan jawaban.
Ia menarik napas.
Namun jika Tuhan benar-benar ada dan membiarkan dunia dikuasai oleh manipulasi, racun, serta kedunguan, mengapa manusia masih menggunakan nama-Nya untuk membenarkan semua itu?
Pena di tangannya semakin cepat.
Kalimat-kalimat berikutnya lahir dari kemarahan yang belum menemukan tempat untuk pulang.
Jika Tuhan tidak ada, maka berhentilah menengadah ke langit sambil mengabaikan kejahatan di depan mata. Dan jika Tuhan ada, semoga Dia tidak tersinggung ketika seorang manusia miskin bertanya mengapa manusia lain dibiarkan menderita atas nama-Nya.
Darman menutup buku itu.
Namun kali ini, ia tidak merasa lebih ringan.
Sebab ada pertanyaan yang tidak selesai hanya dengan menuliskannya.
Ada luka yang tidak sembuh hanya karena berhasil diberi nama.
Dan ada kemarahan yang, jika tidak dijinakkan oleh kebijaksanaan, perlahan dapat mengubah orang yang ingin melawan ketidakadilan menjadi manusia yang tidak lagi mampu melihat kelemahan orang lain.
Penutup Bab 2
Malam semakin larut.
Darman berbaring di samping ibunya yang tertidur gelisah.
Dari luar, terdengar suara orang-orang masih membicarakan ritual paceklik.
Sebagian percaya bencana akan segera berakhir.
Sebagian menyalahkan orang-orang yang dianggap kurang beriman.
Dan sebagian lainnya hanya menunggu keajaiban yang tidak pernah mereka usahakan.
Darman memejamkan mata.
Namun sebelum tidur, sebuah pikiran melintas di kepalanya:
“Mungkin yang paling menyedihkan dari manusia bukanlah ketika ia kehilangan Tuhan, melainkan ketika ia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara pengharapan dan penyerahan diri.”
Di sampingnya, ibunya kembali batuk.
Darman membuka mata.
Ia menoleh.
Perempuan itu masih hidup.
Masih bernapas.
Masih berjuang.
Dan untuk pertama kalinya, Darman merasa bahwa waktu tidak lagi berjalan sebagai sesuatu yang netral.
Waktu sedang mengambil sesuatu darinya.
Sedikit demi sedikit.
Tanpa menunggu izin.



















